Pendidikan

Beberapa Sekolah di Inggris Terancam Tutup Imbas Kekurangan Siswa

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menunggu dalam antrean bersama sejumlah siswa di taman bermain untuk mencuci tangannya

Jakarta, Mercinews.com – Beberapa sekolah di Inggris terancam tutup karena menurunnya jumlah siswa. Akibatnya, sekolah-sekolah ini berisiko menerima lebih sedikit uang.

Lembaga think tank Education Policy Institute dalam Independent mengungkapkan sekolah-sekolah-sekolah di Inggris bisa kehilangan dana lebih dari 1 miliar pound sterling atau Rp 20,1 triliun pada 2030 karena jumlah siswa menurun. Laporan tersebut menyatakan pihak sekolah mungkin terpaksa mempertimbangkan langkah-langkah pemotongan biaya dengan menggabungkan sekolah-sekolah lain atau menutup sekolah.

Wilayah yang Diprediksi Alami Penurunan Siswa
Wilayah Yorkshire, Humber, Timur Laut dan London diproyeksikan mengalami penurunan jumlah siswa terbesar di sekolah menengah. Namun di West Midlands, Inggris Tenggara, dan Inggris Timur, jumlah murid diperkirakan akan meningkat.

Peningkatan jumlah siswa terbesar antara tahun 2022-2023 dan 2028-2029 diperkirakan terjadi di pusat kota Bedfordshire.

Baca Juga:  Rusia Memperingatkan Sinyal Perang Nuklir dengan Negara Barat AS-Inggris-Prancis

Para peneliti mengatakan semua sekolah menerima peningkatan sebesar 0,5 persen dalam pendanaan per siswa setiap tahunnya. Keseluruhan dana tunai untuk sekolah negeri akan turun menjadi £41,6 miliar (Rp 837 triliun) pada tahun 2029-2030, turun dari puncaknya sebesar £42,7 miliar (Rp 859 triliun) pada tahun 2024-2025.

Tahun lalu, Dewan Kota London telah memperingatkan para pemimpin sekolah dan pemerintah daerah terpaksa menggabungkan atau menutup sekolah-sekolah sebagai akibat dari menurunnya jumlah murid dan tekanan pendanaan.

Turunnya Pendaftaran SD Karena Angka Kelahiran
Pendaftaran sekolah dasar di ibu kota juga melemah tahun lalu karena turunnya angka kelahiran. Di samping itu, banyak keluarga yang meninggalkan kota tersebut setelah pandemi dan Brexit.

Apabila sekolah berniat untuk mengurangi ukuran kelas, menurut laporan yang sama, hal ini tidak menghasilkan penurunan proporsional dalam biaya staf, perlengkapan sekolah, tagihan energi, dan biaya sehari-hari lainnya dalam menjalankan sekolah.

Baca Juga:  Dokter Ahli Bedah Palestina Dilarang Masuk Prancis

Di belahan dunia lainnya, Korea Selatan juga mengalami hal serupa akibat penurunan angka kelahiran. Sebanyak 157 SD di Korea Selatan tidak memiliki siswa kelas satu. Data tersebut dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan Korsel berdasarkan pendaftaran siswa pada Maret 2024.

Pemerintah setempat juga mengungkapkan jumlah siswa baru yang mulai bersekolah tahun ini turun karena hanya 357.771 bayi yang lahir pada tahun 2017. Tahun 2017 merupakan tahun kelahiran siswa kelas satu yang memasuki bangku SD tahun ini. Angka ini merupakan penurunan tajam dibandingkan 406.243 kelahiran pada tahun sebelumnya. []

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top