Depok, Mercinews.com – Semarak Gebyar Muharram 1448 Hijriah mewarnai Masjid Jami’ Miftahul Jannah di Rangkapan Jaya, Pancoran Mas, Kota Depok, pada malam 10 Muharram 1448 H, Kamis (25/6/2026). Masjid terasa hidup. Sebuah panggung berdiri berhias lampu kerlap-kerlip dan jejeran bunga. Replika menara terbuat dari jejeran makanan ringan berdiri di sisi kanan dan kiri panggung.
Di pelataran masjid lampu lampion warna-warni tergantung berjejer menerangi jalanan. Ratusan jemaah dan warga dari berbagai usia tumpah ruah di pelataran hingga ke dalam masjid. Mereka datang untuk malam puncak Gebyar Muharram 1448 H. Udara hangat, obrolan pelan, dan senyum sapa mengisi sudut-sudut masjid sebelum acara dimulai.
Malam Puncak Gebyar Muharram 1448 H dibuka dengan lantunan Rawi. Tim Hadroh Yayasan Sakinah bersama pengurus DKM Jami Miftahul Jannah menabuh rebana, melantunkan solawat. Khidmat berpadu meriah. Jemaah yang datang mulai memenuhi shaf, anak-anak duduk rapi di barisan depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Suara kecil memecah keheningan. Pembaca acara cilik, Queen Aurra Wibawa maju ke depan, percaya diri membuka acara dengan surat Al-Fatihah.
Suasana kembali khusyuk. Santri TPA Miftahul Jannah membacakan ayat suci Al-Qur’an dan Sari Tilawah. Suara mereka jernih, membuat banyak orang tua menunduk, menyimak.
Anak-anak Jadi Bintang

Sorak-sorai mulai terdengar saat panitia mengumumkan pemenang lomba “Cilik Berprestasi” dan “Dewasa Berilmu”. Satu per satu nama dipanggil. Wajah gugup berubah jadi senyum lebar ketika menerima hadiah. Orang tua bersorak, anak-anak ikut bertepuk tangan.
Panggung lalu milik santri TPA. Mereka menampilkan tarian Islami. Geraknya kompak, musiknya ceria. Jemaah mengeluarkan ponsel, merekam, sambil sesekali berdecak kagum.
Haru datang ketika pemenang “Miftahul Jannah Got Talent” naik ke panggung. Ia membawakan Atuna Tufuli, lagu tentang Palestina karya Hoda Sidawi dan Lina Abou Rustam. Dinyanyikan pelan, penuh penghayatan. Beberapa jemaah terlihat mengusap mata.
Usai lagu, seorang santri TPA menyampaikan tausiyah singkat. Pesannya sederhana tapi menempel di telinga.
Acara dilanjutkan dengan penyerahan santunan kepada anak yatim, janda, yatama, dan dhuafa. Ada yang tersenyum, ada yang menunduk sambil mengucap syukur.
Ketua DKM Jami Miftahul Jannah Ustaz Namin naik ke panggung. Ia mengatakan, penampilan anak-anak malam itu adalah cara menunjukkan bahwa masjid memiliki Taman Pendidikan AlQuran (TPA). Masjid tidak hanya tempat solat tapi juga membina dan menggembleng anak-anak ilmu agama.

Puncak malam Gebyar Muharram ditutup ceramah Ustaz Ahmad Farhan Fadhillah. Temanya tentang anak yatim. Suaranya tegas tapi lembut.
“Jangan menghardik anak yatim. Orang yang menghardik yatim termasuk orang yang mendustakan agama,” katanya.
Ia mengajak jemaah untuk membantu sesuai kemampuan, memberi kasih sayang, dan mau mendengar keluh kesah mereka.
Acara selesai. Anak-anak sabar menunggu. Mereka mulai berkumpul di depan panggung. Mereka siap berebut snack yang disusun seperti menara. Dan dalam hitungan menit, puluhan snack langsung ludes.
Malam puncak Gebyar Muharram 1448 H di Masjid Miftahul Jannah berakhir dengan rasa yang sama, hangat dan penuh kekeluargaan. (red)






