“Dengan semangat kolaborasi, Sandro Adityajaya Dojo optimistis melahirkan atlet berprestasi yang mengharumkan nama Indonesia di tingkat nasional dan internasional.”
TANGERANG, MERCINEWS.COM – Sandro Academy resmi bertransformasi menjadi Sandro Adityajaya Dojo, sebuah langkah strategis untuk memperkuat komitmen pembinaan generasi muda melalui olahraga prestasi. Perubahan identitas ini sekaligus menjadi bentuk penghormatan atas dedikasi dan keteladanan Irjen Pol Daniel Adityajaya dalam mendorong pembentukan karakter, disiplin, dan prestasi generasi muda melalui jalur olahraga.
Transformasi tersebut menandai fase baru pengembangan lembaga, yang tidak sekadar menyangkut pergantian nama, tetapi juga penegasan nilai bahwa olahraga merupakan instrumen penting dalam membangun sumber daya manusia yang tangguh, berintegritas, dan berdaya saing.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Melalui Sandro Adityajaya Dojo, pengelola menegaskan komitmen jangka panjang untuk membina anak-anak dan remaja, khususnya di wilayah Tangerang dan sekitarnya, serta membuka kesempatan bagi talenta dari berbagai daerah. Program pembinaan dilakukan secara terstruktur dan berkelanjutan pada sejumlah cabang olahraga, seperti judo, kurash, full contact karate, dan jujitsu.
Pendiri sekaligus pelatih kepala Sandro Adityajaya Dojo, Subhan Prasandra, menyatakan bahwa transformasi ini diharapkan dapat menjadi pemantik lahirnya minat dan bakat olahraga sejak usia dini.
“Kami ingin dojo ini menjadi rumah harapan, tempat anak-anak menemukan potensi terbaiknya, belajar disiplin, menghargai proses, dan berani bermimpi besar melalui olahraga,” ujar Subhan, Sabtu (7/1/2026).
Menurut Subhan, kolaborasi nilai yang dibangun di dalam dojo diyakini mampu memperluas jangkauan pembinaan, tidak hanya bagi anak-anak di Tangerang, tetapi juga dari berbagai daerah lain di Indonesia.
Ia juga mengungkapkan rencana pengembangan kualitas pelatih dan atlet melalui kerja sama internasional. Salah satunya dengan membawa pelatih dan atlet berlatih langsung di Kodokan Judo, Jepang, sebagai pusat pengembangan judo dunia. Selain itu, dua pelatih dan dua atlet direncanakan mengikuti sertifikasi pelatihan kurash di Tashkent, Uzbekistan, sebagai bagian dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia olahraga nasional.
Namun demikian, Subhan mengakui keterbatasan pendanaan masih menjadi tantangan utama. Renovasi besar-besaran dojo yang dilakukan pada Januari lalu, demi keselamatan dan kenyamanan atlet, telah menguras dana pribadi dan kas organisasi.
“Kami percaya investasi pada tempat latihan adalah investasi pada masa depan atlet,” ujarnya.
Keterbatasan tersebut berdampak pada tertundanya pemenuhan sejumlah kebutuhan pendukung sport science, seperti pengadaan perangkat pelatihan berbasis teknologi, sistem audio, serta papan skor portabel yang dibutuhkan untuk menunjang latihan modern dan profesional.
Sejalan dengan itu, Sandro Adityajaya Dojo menyatakan terbuka terhadap dukungan berbagai pihak, baik donatur maupun mitra sponsor, terutama untuk memperkuat pembinaan atlet dari keluarga kurang mampu. Dukungan tersebut mencakup penyediaan seragam latihan, pemenuhan nutrisi atlet, perlengkapan pertandingan, hingga penguatan fasilitas sport science.
“Kami sering menemui anak-anak berbakat yang terhambat keterbatasan ekonomi. Kami ingin menjadi jembatan agar kondisi tersebut tidak mematikan mimpi mereka,” kata Subhan.
Meski menghadapi keterbatasan, Subhan menegaskan semangat pengabdian tetap menjadi fondasi utama.
“Kami mungkin terbatas secara materi, tetapi kaya akan tekad dan mimpi. Selama masih ada anak-anak yang ingin berlatih dan berjuang, kami akan terus membina dan mengabdi,” ujarnya.
Dengan semangat kolaborasi dan dukungan berbagai pihak, Sandro Adityajaya Dojo optimistis dapat melahirkan atlet-atlet berprestasi yang berkarakter, membanggakan daerah, serta mengharumkan nama Indonesia di tingkat nasional maupun internasional.(red)






