Jakarta, Mercinews.com – PTPN IV PalmCo memperkuat tata kelola perusahaan melalui perluasan sertifikasi keberlanjutan dan penerapan berbagai standar manajemen di seluruh wilayah operasionalnya. Hingga Agustus 2026, sebanyak 67 pabrik kelapa sawit (PKS) dan 124 kebun telah memperoleh sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Upaya tersebut juga diikuti peningkatan nilai premium produk bersertifikat sebesar 47,87 persen secara tahunan hingga September 2026.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan, sertifikasi keberlanjutan merupakan bagian dari transformasi tata kelola perusahaan. Penerapan standar tersebut tidak hanya ditujukan untuk memenuhi persyaratan sertifikasi, tetapi juga untuk membangun sistem kerja yang terintegrasi dalam proses bisnis dan operasional.
“Kami melihat sertifikasi sebagai bagian dari transformasi tata kelola. Standar yang diterapkan harus menjadi sistem kerja yang nyata, terintegrasi dalam operasional, dan mampu memastikan setiap proses berjalan secara konsisten, efisien, serta bertanggung jawab,” ujar Jatmiko dalam keterangan tertulis, Selasa (13/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Jatmiko, konsistensi penerapan standar keberlanjutan menjadi landasan untuk membangun sistem operasional yang terukur sekaligus memperkuat kepercayaan pemangku kepentingan. Penerapan standar tersebut juga diharapkan dapat berjalan beriringan dengan penciptaan nilai ekonomi bagi perusahaan.
Perluas Penerapan Standar Manajemen
Selain sertifikasi RSPO, PTPN IV PalmCo memperluas penerapan berbagai standar manajemen untuk memperkuat kualitas pengelolaan operasional.
Hingga Agustus 2026, standar ISO 9001 tentang Sistem Manajemen Mutu telah diterapkan pada 176 unit, ISO 14001 tentang Sistem Manajemen Lingkungan pada 143 unit, serta Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) pada 191 unit.
Perusahaan juga menerapkan ISO 22000 tentang Sistem Manajemen Keamanan Pangan pada tiga unit dan ISO 37001 tentang Sistem Manajemen Anti Penyuapan pada delapan unit.
Penerapan berbagai standar tersebut mencakup aspek mutu, lingkungan, keselamatan dan kesehatan kerja, keamanan pangan, serta pencegahan penyuapan. Penguatan ini menjadi bagian dari upaya perusahaan membangun tata kelola yang konsisten dan bertanggung jawab.
Direktur Strategi dan Sustainability PTPN IV PalmCo Ugun Untar mengatakan, penguatan sertifikasi berjalan beriringan dengan penerapan prinsip environmental, social and governance (ESG), termasuk melalui pengembangan ekonomi sirkular dalam kegiatan operasional.
“Penerapan ESG tidak berhenti pada pemenuhan standar, tetapi bagaimana prinsip tersebut terintegrasi dalam proses bisnis. Salah satunya melalui penerapan ekonomi sirkular dengan mengoptimalkan pemanfaatan limbah sawit sehingga dapat memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus mengurangi dampak terhadap lingkungan,” ujar Ugun.
Nilai Premium Produk Bersertifikat Meningkat
Penerapan standar keberlanjutan juga diikuti peningkatan nilai penjualan produk bersertifikat. Berdasarkan data perusahaan untuk periode Januari-September, nilai premium produk bersertifikat PTPN IV PalmCo meningkat dari Rp 129,02 miliar pada 2025 menjadi Rp 190,78 miliar pada 2026.
Nilai tersebut meningkat sekitar 47,87 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dengan demikian, nilai premium produk bersertifikat pada 2026 mencapai sekitar 148 persen dari capaian 2025.
Produk yang dimaksud mencakup minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan minyak inti sawit (palm kernel oil/PKO) bersertifikat. Menurut perusahaan, peningkatan tersebut menjadi salah satu indikator peluang penciptaan nilai tambah dari penerapan standar keberlanjutan.
Sertifikasi juga menjadi instrumen untuk memperkuat daya saing produk dan memperluas akses ke pasar yang semakin memperhatikan aspek keberlanjutan. Meski demikian, penerapan standar perlu didukung konsistensi proses produksi dan tata kelola agar manfaatnya dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Ke depan, PTPN IV PalmCo akan melanjutkan perluasan sertifikasi serta memperkuat integrasi prinsip ESG ke dalam kegiatan operasional. Langkah tersebut mencakup peningkatan kualitas tata kelola, pengelolaan lingkungan, efisiensi pemanfaatan sumber daya, penguatan integritas, dan pengembangan ekonomi sirkular.
Melalui upaya tersebut, perusahaan menempatkan keberlanjutan sebagai bagian dari strategi bisnis jangka panjang. Integrasi tata kelola, standar keberlanjutan, dan kinerja bisnis diharapkan mendukung pengelolaan perkebunan dan pengolahan kelapa sawit yang bertanggung jawab.(red)






