Jakarta, Mercinews.com – Kebakaran besar yang melanda permukiman padat di Jalan Kemayoran Gempol, Kelurahan Kebon Kosong, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat, menyisakan duka mendalam bagi ratusan warga. Sedikitnya 250 rumah hangus terbakar dalam peristiwa yang terjadi pada Senin (1/6/2026) malam itu.
Banyak warga Kemayoran terdampak kebakaran mengaku kehilangan seluruh harta benda mereka hingga hanya menyisakan pakaian yang melekat di badan.
Salah satu korban, Lilis (46), tak kuasa menahan kesedihan saat menceritakan musibah yang menghanguskan rumah dan seluruh isi huniannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Perempuan yang sehari-hari berjualan jamu itu mengaku tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga ketika api mulai membesar.
Lilis menuturkan kobaran api menyebar begitu cepat. Bersama warga lainnya, ia sempat berupaya memadamkan api menggunakan air yang tersedia di lingkungan sekitar.
Menurut dia, warga mengambil air dari penampungan rumah masing-masing untuk memadamkan api. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil karena kobaran api terus membesar dan menjalar ke bangunan lain.
Rumah Lilis berada tidak jauh dari titik awal kebakaran. Kondisi bangunan yang sebagian besar terbuat dari material mudah terbakar membuat api dengan cepat merambat ke rumah-rumah di sekitarnya.
“Saya lebih memilih menyelamatkan diri bersama keluarga, hanya sempat membawa beberapa perlengkapan ibadah sebelum meninggalkan rumah,” ungkapnya di kawasan Pasar Jiung, Kemayoran, Selasa (2/6/2026),
Akibat kebakaran tersebut, hampir seluruh dokumen penting miliknya hangus terbakar. KTP, dompet, dan berbagai dokumen lainnya tidak dapat diselamatkan. Ia hanya berhasil menyimpan kartu keluarga dan surat nikah.
Kehilangan Tabungan
Tak hanya kehilangan tempat tinggal, Lilis juga kehilangan tabungan yang selama ini disisihkan untuk kebutuhan keluarga. Uang tersebut rencananya digunakan untuk biaya sehari-hari sekaligus menghadiri wisuda anaknya di Solo yang akan berlangsung dalam waktu dekat.
“Tabungan ada, lumayan untuk modal sehari-hari. Dua minggu lagi mau pulang kampung, anak mau wisuda di Solo,” ucapnya sedih.
Musibah itu juga menghanguskan perlengkapan usaha jamu yang selama ini menjadi sumber penghasilannya. Kini, ia belum mengetahui bagaimana cara memulai kembali usahanya setelah seluruh modal ikut terbakar.
Menurut Lilis, satu-satunya barang yang berhasil diselamatkan adalah sepeda yang biasa digunakannya untuk berjualan. Sepeda tersebut berhasil diamankan berkat bantuan tetangga sebelum api menjalar ke rumahnya.
Usai kebakaran, Lilis bersama suaminya yang bekerja sebagai pengemudi ojek online (ojol) terpaksa mengungsi ke rumah kerabat di kawasan Serdang.
Ia berharap bantuan pemerintah segera datang untuk membantu para korban yang kehilangan tempat tinggal dan sumber mata pencaharian.
“Kita berharap banget bantuan pemerintah. Kita sudah habis-habisan begini, enggak punya modal lagi. Punyanya baju yang melekat di badan saja,” harapnya.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, kebakaran yang terjadi di Kemayoran tersebut menghanguskan sekitar 250 rumah dan berdampak pada 330 kepala keluarga atau sekitar 620 jiwa.
Langkah Penanganan Darurat
Sebagai langkah penanganan darurat, BPBD DKI Jakarta telah menyalurkan bantuan berupa 16 lembar matras atau kasur, 10 lembar terpal, dan 500 lembar selimut bagi warga terdampak.
Sementara itu, proses pemadaman berlangsung selama sekitar tujuh jam. Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta menerima laporan kebakaran pada pukul 20.55 WIB dan mulai melakukan pemadaman sekitar pukul 21.05 WIB.
Sebanyak 35 unit mobil pemadam kebakaran dan 175 personel dikerahkan ke lokasi untuk mengendalikan kobaran api. Api akhirnya berhasil dipadamkan sepenuhnya pada Selasa (2/6/2026) pukul 04.15 WIB.
Hingga kini, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan. Petugas juga masih melakukan pendataan terkait kerugian dan dampak yang ditimbulkan akibat peristiwa tersebut.
Pemerintah telah menyiapkan lokasi pengungsian sementara di Lapangan Jusuf Hamka, Jalan Benyamin Suaeb, Kemayoran. Selain menjadi tempat beristirahat bagi warga terdampak, lokasi tersebut juga digunakan untuk pendataan dan penyaluran bantuan kemanusiaan.
Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Safrizal ZA, mengatakan pemerintah bersama BPBD, Dinas Sosial, PMI, dan Baznas telah menyiapkan berbagai kebutuhan dasar bagi para pengungsi.
Saat ini, pendataan terhadap warga terdampak masih terus dilakukan guna memastikan seluruh korban mendapatkan bantuan sesuai kebutuhan mereka.(red)






