Eropa

Virus COVID-19 Telah Renggut 1.266 Nyawa di Italia, 250 Orang dalam Sehari

Para pekerja membersihkan jalan-jalan di dekat stasiun pusat Milan pada hari Jumat (13/3/2020), untuk mencegah penyebaran virus corona baru. Foto/REUTERS/ Daniele Mascolo

Roma, Mercinews.com – Jumlah korban meninggal akibat virus corona baru, COVID-19, di Italia telah bertambah 250 orang dalam 24 jam menjadi 1.266 orang atau naik 25 persen. Ini lonjakan jumlah kematian terbesar sejak awal wabah di negara tersebut.

Badan Perlindungan Sipil Italia mengonfirmasi tambahan jumlah kematian terbaru itu pada Jumat malam.

Jumlah total kasus di negara Eropa yang paling terpukul oleh COVID-19 itu naik menjadi 17.660 dari sebelumnya 15.113 atau meningkat sekitar 17 persen.

Badan Perlindungan Sipil seperti dikutip Reuters, Sabtu (14/3/2020), mengatakan bahwa dari semua yang terinfeksi virus tersebut sekitar 1.439 pasien telah disembuhkan. Jumlah pasien sembuh ini juga meningkat dari sehari sebelumnya, 1.258 orang

Baca juga:  Cegah Virus Corona, Yordania Tutup Perbatasan dengan Israel dan Palestina

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan Eropa sekarang menjadi pusat atau episentrum untuk pandemi global COVID-19. Organasasi di bawah naungan PBB ini memperingatkan bahwa tidak mungkin untuk mengetahui kapan wabah akan memuncak.

“Eropa sekarang telah menjadi pusat pandemi,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers virtual hari Jumat.

COVID-19 telah merenggut lebih 5.000 nyawa manusia di seluruh dunia. Tedros menyebutnya sebagai “tonggak tragis”.

Saat ini ada 142.897 kasus COVID-19 yang telah dilaporkan di 136 negara sejak muncul pada bulan Desember 2019 di kota Wuhan, China.

Baca juga:  Tingkat Kematian Pasien Virus Corona di RI 8,3%, 2 Kali Lipat Rata-rata Dunia

Dia mengatakan benua Eropa sekarang lebih banyak melaporkan kasus infeksi dan kematian daripada gabungan negara-negara di seluruh dunia, selain China.

“Lebih banyak kasus sekarang dilaporkan setiap hari daripada yang dilaporkan di China pada puncak epidemi,” kata Tedros, merujuk pada jumlah kasus secara global.

Maria Van Kerkhove, yang memimpin unit penyakit di WHO, mengatakan tidak mungkin untuk memprediksi bagaimana pandemi akan berkembang. “Tidak mungkin bagi kita untuk mengatakan kapan ini akan mencapai puncaknya secara global. Kami berharap lebih cepat daripada nanti,” ujarnya.

[m/news]

Comments