Kesehatan

Tes PCR Hidung Kanan-kiri Hasilnya Beda? Ini 5 Hal yang Mempengaruhi Akurasi

Ilustrasi net/ Tes PCR Hidung

Jakarta, Mercinews.com – Beberapa tokoh beken sempat mengeluhkan hasil tes yang berbeda-beda meski dilakukan berdekatan, salah satunya bos Tesla, Elon Musk. Baru-baru ini, penyanyi Amerika Serikat Erykah Badu juga mengalami hal yang sama, bahkan disebutnya hasil tes pada hidung kiri dan kanannya berbeda.

Pengambilan sampel pada hidung kanan dan kiri pada dasarnya sama saja, karena keduanya berpangkal pada saluran yang sama. Namun jika akhirnya memberikan hasil yang berbeda, maka ada banyak kemungkinan penyebabnya.

Saat ini, tes polymerase chain reaction (PCR) merupakan tes virus Corona yang diketahui memiliki tingkat akurasi yang tinggi. Sering disebut tes swab, karena pengambilan sampel dilakukan dengan usapan atau swab di area nasofaring. Cara kerja tes PCR dengan mendeteksi materi genetik virus.

Tes PCR dilakukan dengan mengambil sampel pada hidung dan tenggorokan. Pengambilan sampel di lokasi berbeda ini bertujuan untuk meningkatkan positivity rate atau kemungkinan hasil untuk menjadi positif pada pasien yang positif COVID-19.

Apa yang sebenarnya terjadi ketika seseorang melakukan tes PCR dua kali di tempat yang berbeda dalam waktu yang sama tetapi hasilnya berbeda?

dr Thyrza Laudamy Darmadi SpPK, spesialis patologi klinik dari RS Pondok Indah (RSPI) Bintaro Jaya menjelaskan fenomena seperti itu bisa saja terjadi. Perbedaan hasil dapat disebabkan dari berbagai faktor dari saat pengambilan sampel hingga alat PCR yang digunakan.

Menurut dr Thyrza berikut beberapa faktor yang bisa menyebabkan perbedaan hasil tes PCR.

1. Teknik pengambilan sampel
dr Thyrza menyebut pengambilan sampel harus tepat karena teknik pengambilan sampel merupakan langkah awal yang perlu diperhatikan untuk menentukan hasil tes. Jika teknik pengambilan sampel sudah salah, maka virus tidak terdeteksi.

Baca juga:  Karena Covid, ASN Kemenag Aceh diminta tak keluar daerah saat cuti bersama

“Teknik pengambilan sampel ini kan juga menentukan hasil kan, jadi colekan nya istilahnya, colekan nya gimana pas dapet nggak si virus, itu kalau dia pada saat swab itu dia nggak kecolek, nggak kedapet, udah otomatis dia pasti yang diperiksa juga nggak ketemu benda nya,” ujar dr Thyrza saat ditemui detikcom di RSPI Bintaro Jaya, Jumat (20/11/2020).

2. Rentang waktu
Pada saat melakukan tes PCR, perlu diperhatikan rentang waktu saat melakukan tes. Tes PCR dinilai lebih efektif untuk digunakan pada awal terinfeksi hingga hari ke 7. Sebab, pada minggu awal antibodi belum terbentuk, sehingga tes PCR lebih efektif untuk mendeteksi virus.

“Pada saat terinfeksi, ketika melakukan pemeriksaan sudah berapa lama, kalau dia sudah lama, otomatis PCR-nya negatif,” ujarnya.

Banyaknya sampel yang diambil bisa mempengaruhi hasil. Klik halaman berikut untuk melanjutkan.

3. Jumlah sampel yang diambil
Jumlah sampel yang diambil saat melakukan tes PCR dapat mempengaruhi hasil tes. Bagian pengambilan sampel tes PCR dilakukan pada hidung dan tenggorokan. Pengambilan sampel pada dua lokasi ini bertujuan untuk meningkatkan positivity rate-nya.

“Jadi semakin banyak sampel yang diambil jadi semakin meningkatkan positivity nya gitu,” jelasnya.

“Ada penelitian juga yang mengatakan bahwa memang jika dibandingkan dengan antara naso hidung dan mulut, ketika harus milih salah satu itu lebih baik yang diambil adalah yang hidung karena hidung itu positif nya lebih tinggi dibandingkan yang dari orofaring, dari tenggorokan,” pungkasnya.

Baca juga:  IDI Ungkap Jumlah Kematian Terkait Covid-19 di Indonesia Capai 1.000 Orang

4. Limit of detection (LOD) pada alat PCR
Setiap alat PCR memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda-beda. Terdapat LOD (limit of detection) yang menentukan kemampuan alat PCR untuk mendeteksi jumlah virus. Semakin rendah jumlah virus yang mampu terdeteksi oleh alat PCR, maka alat tersebut lebih sensitif.

“Kan kalau misalnya kita pake alat yang 500 nih kita dapet virus nya misalnya 300 di alat yang 500 akan hasilnya negatif, tapi ketika di alat PCR yang satu lagi, yang mampu mendeteksi 250, yang tadinya jumlah virusnya sama-sama 300, di alat PCR ini jadi positif,” ujar dr Thyrza.

5. Kemampuan mendeteksi gen
Setiap alat PCR juga memiliki kemampuan mendeteksi gen yang berbeda-beda. dr Thyrza mengungkapkan virus Corona memiliki beberapa materi genetik seperti gen E, N, RdRp, orf1ab, N2, dan S.

“Berbagai macam gen tergantung di faskes tersebut, dia mendeteksi gen apa gitu, jadi apa namanya bisa itu terjadi perbedaan itu karena tergantung dari gen apa yang dideteksi seperti itu” ungkapnya.

Untuk menghindari hasil tes yang berbeda-beda, dr Thyrza menyarankan untuk melakukan tes di tempat yang sama. Hal ini bertujuan agar tidak ada kebingungan dan kerancuan terhadap hasil tes PCR.

“Pada pasien yang isolasi mandiri itu pada saat dia terdeteksi covid, dia positif itu kan, kemudian dia isolasi mandiri harus apa namanya misalnya follow up, lebih baik memang di rumah sakit yang sama gitu, dengan alat dan gen yang sama, supaya tidak menimbulkan kebingungan dan kerancuan,” tambahnya.

[]

Comments