Kesehatan

Sudah 301 orang warga Aceh meninggal dunia akibat Virus Corona

Foto: Proses pemakaman terhadap almarhum yang dilakukan sesuai SOP pemulasaraan virus corona

Banda Aceh, Mercinews,com – Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) COVID-19 Aceh menyatakan warga Aceh yang telah meninggal dunia akibat terinfeksi virus corona mencapai 301 orang, sejak dilaporkan kasus positif perdana yang meninggal dunia pada akhir Maret lalu.

Juru Bicara COVID-19 Aceh Saifullah Abdulgani, Jumat (20/11/2020), mengatakan per hari ini tidak ada laporan warga di daerah Tanah Rencong itu yang dilaporkan meninggal dunia, begitu juga dengan laporan Kamis (19/11/2020) kemarin, yang nihil kasus meninggal dunia.

“Tidak ada penderita COVID-19 yang dilaporkan meninggal dunia dilaporkan hari ini, namun secara akumulatif yang meninggal dunia sebanyak 301 orang,” katanya di Banda Aceh.

Data Dinas Kesehatan Aceh, warga yang paling banyak meninggal dunia akibat COVID-19 berasal dari Banda Aceh sebanyak 67 orang, Aceh Besar 63 orang, Pidie 22 orang, Aceh Selatan 19 orang dan puluhan orang lainnya tersebar di seluruh daerah Aceh.

Baca juga:  DPR Setujui Perppu Penanganan Covid-19 Jadi Undang-Undang

Selain itu, Jubir yang akrab disapa SAG itu menyampaikan penambahan 21 kasus konfirmasi positif baru per hari ini, meliputi warga asal Banda Aceh dan Langsa masing-masing lima orang, Aceh Selatan dua orang.

Selanjutnya, warga Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh Jaya, Aceh Tamiang, Pidie Jaya dan Sabang yang masing-masing satu kasus baru COVID-19, serta tiga orang warga luar daerah Aceh.

Tidak ada penderita COVID-19 di Aceh yang dilaporkan sembuh dalam waktu 24 jam terakhir, kata SAG lagi.

Baca juga:  Sulit Dicari, Indonesia Ternyata Ekspor Masker Besar-Besaran ke China

Secara akumulatif, kasus COVID-19 di Aceh telah mencapai 8.064 orang, di antaranya 6.659 orang telah sembuh, 301 orang meninggal dunia dan 1.104 orang masih dirawat di rumah sakit rujukan atau isolasi mandiri.

Ia menambahkan, penderita COVID-19 dengan status orang tanpa gejala (OTG) hanya membutuhkan isolasi mandiri, sedangkan penderita yang bergejala atau simtomatik harus dirawat di rumah sakit.

“OTG yang melakukan isolasi mandiri di rumahnya dipantau olah tenaga kesehatan di Puskesmas, dan setelah masa isolasi mandiri tersebut selesai diberikan surat keterangan selesai isolasi mandiri,” ujarnya.

[]

Comments