Fenomena

Lagi Heboh Fenomena Aphelion Bawa Suhu Dingin, Ini Faktanya

Fenomena Aphelion 6 Juli 2021. /pixabay/PIRO4D//

JAKARTA, Mercinews.com– Fenomena Aphelion belakangan mencuri perhatian publik. Terlebih fenomena tersebut disebut akan membawa suhu dingin di Indonesia akibat posisi matahari sangat jauh dari bumi.

Tak sedikit yang merasa khawatir dan bertanya-tanya. Menanggapi hal tersebut, Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Herizal pun menjelaskan fenomena aphelion terjadi setahun sekali pada kisaran bulan Juli.

Dia juga mengungkapkan fenomena itu terjadi ketika posisi matahari berada pada titik jarak terjauh dari bumi. Meskipun demikian, kondisi tersebut tidak berpengaruh banyak pada fenomena atmosfer permukaan.

“Sementara itu, pada waktu yang sama, secara umum wilayah Indonesia berada pada periode musim kemarau. Hal ini menyebabkan seolah aphelion memiliki dampak yang ekstrem terhadap penurunan suhu di Indonesia,” kata Herizal.

Menurutnya fenomena ini merupakan hal yang biasa terjadi setiap tahun. Bahkan hal ini pula yang nanti dapat menyebabkan beberapa tempat seperti di Dieng dan dataran tinggi atau wilayah pegunungan lainnya, berpotensi terjadi embun es (embun upas) yang dikira salju oleh sebagian orang.

Baca juga:  Keadaan Genting, NASA Deteksi Asteroid Besar Sedang Melesat Menuju Bumi

Lebih lanjut dia menjelaskan, fenomena suhu udara dingin sebetulnya merupakan fenomena alamiah yang umum terjadi di bulan-bulan puncak musim kemarau (Juli – September). Saat ini wilayah Pulau Jawa hingga NTT menuju periode puncak musim kemarau. Periode ini ditandai pergerakan angin dari arah timur, yang berasal dari Benua Australia.

Herizal mengatakan adanya pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia menuju Indonesia atau dikenal dengan istilah Monsoon Dingin Australia.

“Angin monsun Australia yang bertiup menuju wilayah Indonesia melewati perairan Samudera Indonesia yang memiliki suhu permukaan laut juga relatif lebih dingin, sehingga mengakibatkan suhu di beberapa wilayah di Indonesia terutama bagian selatan khatulistiwa (Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara) terasa juga lebih dingin,” kata Herizal. Baca: Banjir Pesanan, Perajin Peti Mati di Malang Malah Bersedih.

Baca juga:  Simpan Batu luar Angkasa Paling Dicari, Anak Medan Ini Usik Astronom Dunia

Selain dampak angin dari Australia, berkurangnya awan dan hujan di Pulau jawa hingga Nusa Tenggara turut berpengaruh ke suhu yang dingin di malam hari. Sebab, tidak adanya uap air dan air menyebabkan energi radiasi yang dilepaskan oleh bumi pada malam hari tidak tersimpan di atmosfer.

Tak hanya itu, langit yang cenderung bersih awannya (clear sky) akan menyebabkan panas radiasi balik gelombang panjang ini langsung dilepas ke atmosfer luar. “Sehingga kemudian membuat udara dekat permukaan terasa lebih dingin terutama pada malam hingga pagi hari. Hal ini yang kemudian membuat udara terasa lebih dingin terutama pada malam hari,” pungkasnya.

[]

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *