Aceh

Dosen Fakultas Ekonomi Unsyiah Dr. Amri: 2021 Aceh Masih Tetap Miskin

Dosen Fakultas Ekonomi Unsyiah Dr. Amri: 2021 Aceh Masih Tetap Miskin/ Foto: acehtrend

Banda Aceh, Mercinews.com -Dr. Amri, SE,M.Si., Dosen Fakultas Ekonomi & Bisnis Unsyiah, mengatakan hasil bedah APBA 2020 yang dilakukan pihaknya menghasilkan kesimpulan bahwa pada tahun 2021 Aceh masih tetap sebagai daerah miskin di Sumatera.

Didapuk sebagai pembicara pembuka pada diskusi publik: Kawasan Ekonomi Khusus dan Strategi Pengentasan Kemiskinan di Aceh, yang digelar oleh HMI Komisariat FEBI Unsyiah dan Titik Temu, yang digelar di warkop Gampong Gayo, Banda Aceh, Jumat (8/2/2020), Dr. Amri mengatakan bila melihat program dan kegiatan di dalam APBA 2020, Aceh dipastikan masih akan miskin pada tahun 2021.

Menurut Amri Pemerintah Aceh belum mampu mengoptimalkan potensi yang ada di sini. Sejauh ini rancangan program pembangunan belum menyentuh persoalan yang seharusnya diselesaikan.

Baca juga:  Data BPS: Aceh Bukan Lagi Daerah Termiskin di Sumatera

Pun demikian, menyangkut Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Lhokseumawe, bila itu dapat dijalankan, maka akan membuka peluang lahirnya kesejahteraan rakyat karena akan terserapnya puluhan ribu tenaga kerja di Aceh.

“Bila KEK Lhokseumawe hidup, maka seluruh Aceh akan hidup. Ada uang besar yang berputar di KEK. Hanya saja sampai sekarang KEK Lhokseumawe sepertinya masih belum jalan. Kita berharap ke depan bisa jalan,” kata Amri.

Geliat pembangunan Aceh, menurut Amri, khususnya infrastruktur besar, merupakan intervensi langsung Program Strategis Nasional. Seperti pembangunan sejumlah waduk, KEK dan jalan tol. Untuk pembangunan tol Aceh, dibutuhkan dana sebesar 70 triliun untuk menyambungkan Aceh dengan Sumut. Artinya bila dibangun dengan APBA yang 17 triliun Rupiah per tahun, butuh beberapa tahun APBA hanya untuk membangun tol.

Baca juga:  Bupati Bener Meriah minta data angka kemiskinan diperbaiki

Pembangunan infrastruktur besar tersebut merupakan modal bagi Aceh agar bisa melakukan sesuatu yang lebih besar di masa depan.

Ia berpesan, untuk memajukan Aceh, Pemerintah Aceh harus berhenti menyalahkan data yang disajikan oleh Badan Pusat Statistik dan Bank Indonesia. Kedua lembaga tersebut merupakan rujukan lembaga internasional sekaligus base data bagi perencanaan pembangunan nasional.

Hal yang harus dilakukan adalah memperbaiki kualitas perencanaan pembangunan serta mempercepat berjalannya berbagai proyek besar seperti KEK Lhokseumawe.

Pembangunan bersistem kawasan seperti KEK Lhokseumawe harus dikelola serius. Karena potensi untuk memutus mata rantai kemiskinan di Aceh ada di KEK,” ujar Amri.

[m/]

 

Sumber: Acehtrend.com

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *