Amerika

Donald Trump Tuding Iran Serang Fasilitas Minyak Saudi, Tapi tidak ingin Perang

Donald TrumpAFP/Getty Images

Washington, D.C, Mercinews.com – Sehari setelah mengatakan Amerika Serikat “lock and loaded” untuk menanggapi insiden serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi, Presiden Donald Trump mengeluarkan pernyataan yang berbeda. Ia mengaku tidak ingin terburu-buru untuk melakukannya.

Trump mengatakan Iran kemungkinan berada di balik serangan terhadap minyak Arab Saudi. Namun ia menekankan tidak ingin berperang, karena itu akan membuat harga minyak melonjak dan meningkatkan kekhawatiran akan konflik baru di Timur Tengah.

Dikatakan oleh Trump, AS masih menyelidiki apakah Iran berada di belakang serangan Saudi. “Tetapi tentu saja terlihat seperti itu pada saat ini,” ucap Trump.

Meski begitu, Trump menjelaskan, biar bagaimanapun ia tidak akan tergesa-gesa untuk masuk ke dalam konflik baru atas nama Arab Saudi.

Baca juga:  Menlu Saudi: Aksi Iran Rampas Kapal Inggris Tak Dapat Diterima

“Saya seseorang yang tidak ingin berperang,” kata Trump.

“Kami memiliki banyak opsi tetapi saya tidak melihat opsi saat ini. Kami ingin menemukan secara pasti siapa yang melakukan ini,” imbuhnya seperti dikutip dari Reuters, Selasa (17/9/2019).

Trump pun menegaskan jika dirinya belum membuat komitmen untuk melindungi Saudi.

“Tidak, saya belum berjanji pada orang Saudi. Kami harus duduk bersama Saudi dan menyelesaikan sesuatu, ” ucapnya.

“Itu serangan terhadap Arab Saudi, dan itu bukan serangan terhadap kami. Tapi kami pasti akan membantu mereka,” sambungnya.

Beberapa anggota Kabinet Trump, termasuk Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dan Menteri Energi Rick Perry, menyalahkan Teheran atas serangan itu. Terkait hal itu, Trump mengatakan Pompeo akan melakukan perjalanan ke Arab Saudi.

Baca juga:  Pengadilan Yaman Jatuhkan Vonis Mati untuk Putra Mahkota Arab Saudi dan UEA

“Pompeo dan lainnya akan melakukan perjalanan ke Arab Saudi segera,” kata Trump.

Iran telah menolak tuduhan AS yang menuding mereka berada di balik serangan pada hari Sabtu lalu. Serangan itu merusak pabrik pemrosesan minyak mentah terbesar di dunia dan memicu lonjakan terbesar dalam harga minyak mentah dalam beberapa dekade.

Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan serangan itu dilakukan oleh “orang Yaman” sebagai balasan atas serangan koalisi militer pimpinan Arab Saudi dalam perang dengan kelompok Houthi.

“Orang-orang Yaman menggunakan hak pertahanan mereka yang sah,” kata Rouhani kepada wartawan saat kunjungan ke Ankara.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Abbas Mousavi menyebut tuduhan itu tidak dapat diterima dan sama sekali tidak berdasar. [m/]

Comments