Aceh

Banjir di hulu Aceh Tamiang semakin meluas akibat sungai meluap

Kuala Simpang, Mercinews.com – Banjir di wilayah hulu Kabupaten Aceh Tamiang semakin meluas menyusul meluapnya air sungai di beberapa titik di kabupaten tersebut.

“Banjir terjadi karena tingginya intensitas hujan yang menyebabkan sungai di hulu meluap,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Aceh Tamiang Diwan Syahputra di Kuala Simpang, Kamis (21/1/2021)

Diwan Syahputra menyebutkan meluapnya sungai di bagian hulu menyebabkan beberapa kampung di sepanjang aliran sungai mengalami banjir.

Berdasarkan laporan sementara Tim Reaksi Cepat (TRC) Pusdalops PB BPBD Aceh Tamiang menyebutkan sedikitnya delapan kampung di tiga kecamatan terdampak banjir.

Kampung yang dilanda banjir tersebut dimaksud yakni, Pengidam, Bengkelang, Babo, Serba dan Pantai Cempa di Kecamatan Bandar Pusaka. Ketinggian banjir mencapai satu meter.

Baca juga:  Jembatan penghubung diterjang banjir, lintas Aceh Timur dan Gayo Lues lumpuh

Kemudian Kampung Juar dan Kampung Baling Karang di Kecamatan Sekerak dengan ketinggian air hingga satu setengah meter. Kampung Simpang Kiri di Kecamatan Tenggulun ketinggian air mencapai setengah meter.

Sedangkan jumlah korban banjir yakni di Kampung Pengidam sebanyak 205 keluarga atau 820 jiwa, Kampung Bengkelang sebanyak 44 keluarga dengan 15 jiwa, Kampung Simpang Kiri dengan korban banjir 58 keluarga atau 128 jiwa, Kampung Juar 36 keluarga dengan 113 jiwa.

Kemudian, Kampung Baling Karang dengan korban 29 keluarga atau 161 jiwa, Kampung Babo sebanyak 210 keluarga atau 1.030 jiwa, Kampung Serba dengan korban terdampak tujuh keluarga dengan 24 jiwa, dan Kampung Pantai Cempa sebanyak 171 keluarga atau 684 jiwa.

Baca juga:  Tanggul Jebol, Sejumlah Rumah Warga di Aceh Jaya Terendam Banjir

“Korban jiwa dan luka tidak ada. Jumlah pengungsi di Kecamatan Bandar Pusaka mencapai 320 keluarga dengan 1.270 jiwa dan Kecamatan Sekerak
84 keluarga dengan 292 jiwa,” terang Diwan Syahputra.

Datok Penghulu (kepala desa) Baling Karang Jhoni Sardi mengatakan pihaknya sudah membuat dapur umum. Selain itu, warga mengeluh karena mulai kehabisan makanan.

“Warga mengungsi tidak keluar kampung. Titik pengungsian warga berada di bangunan tinggi. Warga berharap bantuan segera datang, menyusul makanan mulai habis,” ujar Jhoni Sardi.

[]

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *