Hukum

Pelaku Pelecehan Seksual Dijerat dengan Qanun Jinayat, Keluarga Korban Menolak

Mercinews.com, Banda Aceh – Seorang kakek berinisial Amiruddin Syam (75) diduga telah melakukan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur S (5) di daerah Kecamatan Babahrot, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) pada Sabtu 20 Januari 2018 kemarin. Keluarga korban sudah melaporkan kasus ini kepihak kepolisian setempat, dan kini sudah ditangani oleh Polres Abdya.

Abang korban, AA meminta kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur tersebut tidak dijerat dengan Qanun Jinayah atau dihukum cambuk. Melainkan harus dipidanakan sesuai Undang-undang Perlindungan Anak. Menurutnya sangat tidak relevan kasus yang menimpa anak kalau menggunakan Qanun Jinayah.

“Kami keluarga sudah mendapatkan keterangan dari pihak kepolisian kemungkinan kasus tersebut akan diselesaikan dengan menggunakan Qanun Jinayah. Kami tidak mau pelaku dihukum cambuk, tetapi harus dipidanakan sesuai dengan UU perlindungan anak,” kata AA saat melakukan jumpa pers di kantor PWI Aceh, Kamis (25/1).

Ibu korban, YW menceritakan awal terjadinya kasus pelecehan tersebut. Ia mengatakan sebelum kejadian, dirinya sedang memasak di dapur, kemudian anaknya keluar dari belakang rumah, setelah selesai memasak sang ibu memanggil suaminya untuk makan siang.

Melihat S tidak ada di rumahnya, ibunya menyuruh kakak korban untuk mencari adiknya, namun juga tak kunjung ditemui. Lalu ibu korban mencari kerumah tetangga dengan memanggil sang anak.

“Lalu anak saya menyahuti dari dalam rumah kakek itu, dan saya masuk kedalam rumah dan membawa pulang anak saya,” kata YW.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, ia menanyakan kepada anaknya perihal kenapa bisa berada di rumah kakek tersebut. Kemudian, korban menceritakan kepada ibunya bahwa dirinya sudah diperlukan tidak senonoh oleh pelaku.

Setelah mengetahui adanya perlakuan pelecehan seksual terhadap anaknya, YW bersama keluarga membicarakan masalah itu kepada pihak aparatur gampong, lalu solusi akhir lebih baik persoalan ini diselesaikan secara adat gampong yang berlaku.

“Kami ceritakan kepada keuchik, dan dibilang ada sanksi adat gampong dengan membayar uang Rp 5 juta dan tidak boleh kembali ke gampong selama tiga tahun,” ujarnya.

YW tidak sepakat dengan solusi itu, akhirnya keluarga memanggil keputusan untuk melaporkan ke Polsek Kecamatan Babahrot. Dibantu oleh kepolisian, keluarga melakukan visum terhadap korban ke Rumah Sakit Umum Teuku Peukan (RSUTP) Abdya.

“Setelah lapor kami dikawal sama polisi untuk pergi visum ke rumah sakit Korea (RSUTP). Anak saya sakit waktu buang air kecil, kami berharap pelaku dijerat dengan hukum perlindungan anak atau secara pidana,” ujarnya.

Pelaku saat ini sudah mendekam di Mapolres Abdya untuk proses penyelidikan lebih lanjut.[]

Ke Atas