Umum

Dilarang Lewati Areal PT Delima Makmur, Petani Tutup Jalan ke Arah HGU

Mercinews.com, Aceh Singkil – Seratusan petani Aceh Singkil yang berasal dari Kelompok Tani Maju Bersama dan Sukadamai menutup jalan masuk menuju areal PT Delima Makmur menggunakan kendaraan mereka yang dilarang lewat di depan pos perbatasan Desa Lae Tangga, Kecamatan Singkil Utara.

Menutup jalan dengan cara memarkir kendaraan di badan jalan itu merupakan aksi spontan para petani yang kecewa lantaran mereka dilarang melintas di areal HGU dengan membawa bibit tanaman kelapa sawit dan kelapa menuju ke areal lahan para petani diareal SK IV.

“Ini spontan, kami mau lewat tidak dikasih oleh pihak perusahaan, karena tidak dikasih ya udah kami parkir kendaraan di pos ini, kalau kami gak boleh melintas diareal mereka, mereka juga gak boleh lewat,” kata Surianto salah satu petani, Rabu (10/1).

Surianto mengatakan, alasan yang disampaikan pihak perusahaan melarang mereka lewat, karena menurut perusahaan areal yang digarap oleh kelompok tani sejak tahun 2006 itu merupakan areal HGU mereka.

“Kami menggarap lahan itu dari nol, masih hutan, kenapa sekarang setelah sudah produksi katanya milik perusahaan, kami gak boleh lewat, bahkan jembatan yang kami buat dibongkar oleh perusahaan, selama ini tidak ada larangan dari mereka, baru-baru ini saja dilarang setelah manajemen perusahaan berganti,” ujar Surianto.

Sementara itu, Humas PT Delima Makmur, Rahmatullah yang dimonfirmasi wartawan di lokasi mengatakan pihaknya tidak mengizinkan petani melintas dengan membawa bibit yang hendak ditanam pada areal SK IV yang disengketakan lantaran lahan yang digarap berada diareal HGU, secara legalitas itu milik perusahaan.

“Kenapa dari dulu tidak dilarang, itu saya tidak tahu kronologinya, tapi yang jelas sekarang managemen kan sudah beralih kepemilikan, manajemen baru, tempo hari kami sudah bertemu dengan perwakilan mereka, kami katakan usaha mereka itu salah, karena diareal HGU, secara legalitas itu milik HGU,” kata Rahmatullah.

Dalam pertemuan dengan perwakilan kelompok tani itu, kata Rahmatullah, pihak petani meminta secepatnya dilakukan mediasi, tetapi kata Rahmatullah, permintaan segera itu sifatnya sulit, perusahaan menginginkan jika memang sama-sama beritikad baik maka harus duduk bersama-sama.

“Artinya kalau memang iktikadnya baik, tentu kami beri waktu juga ke pemda untuk kapan mereka beri waktu mediasi, perusahaan terbuka, kami komitmen masalah ini segera selesai,” ujar Rahmatullah.

Menurut Rahmatullah areal SK IV tersebut sudah pasti milik HGU, namun begitupun nantinya akan diperiksa kembali. Jika nanti yang ditanam memang di luar kawasan HGU, perusahaan justru punya program kemitraan.

“Kami ajak mereka bermintra, kami jadi asuhnya, tapi kalau mereka yang masuk ke kawasan kami , karena itu sudah HGU tentu akan kami musyawarahkan apa yang mereka sudah tanam disitu,” kata Ramhatullah.

Hingga berita ini diunggah, para petani masih bertahan di depan pos, mereka tidak akan pulang sebelum tercapai kesepakatan kapan mediasi akan digelar.

“Kami cuma meminta persoalan ini segera di selesaikan, pemerintah untuk segera memfasilitasi pertemuan kedua belah pihak, pastikan waktunya, kalau sudah ada kepastian waktu mediasinya baru kami mau pergi dari sini, pihak perusahaan pun juga minta komitmen, jangan nanti tidak datang dalam mediasi,” tegas para petani.[] ajnn.net

Berikan Komentar

Mercinews.com memberikan akses informasi secara mudah, cepat, akurat, dan berkualitas kepada masyarakat luas.

[email protected]

[email protected]

Copyright © 2016-2018 Mercinews.com. All Rights Reserved.

Ke Atas