Umum

Meunyoe Hana Tarante, Jipoh Teuh”

Mercinews.com, Aceh Utara – Wanita paruh baya itu terlihat tegar, tetapi sorot mata tuanya tidak mampu menyembunyikan kesedihan hatinya. Anak ketiganya, Fauzi Murtala, 27 tahun, sejak empat tahun terakhir mengalami gangguan jiwa. Tiga kali sudah dibawa ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di Banda Aceh, tetapi selama hampir setahun terakhir terpaksa dirantai di kebun belakang rumah. Alasannya, karena Fauzi sering mengamuk dan memukul anggota keluarga, termasuk ibunya.

Keluarga Ruhamah, 60 tahun, menetap di Gampong Tanjong Geulumpang, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara. Rumah yang mereka tempati hanya berukuran sekitar 6×5 meter, berdinding papan lapuk di bagian luar, sedangkan sekat kamar terbuat dari tepas yang sudah bolong di sana-sini.

Lantai rumah masih tanah pekat yang dilapisi terpal berwarna hitam dan beratapkan daun rumbia. Bagian dapur pun sudah roboh, dinding yang tersisa hanya beberapa lembar papan. Kamar mandi hanya berbatas beberapa lembar daun pohon kelapa tua, sehingga terlihat jelas siapa oleh siapa saja yang lewat di samping rumah.

“Weuh teuh taeu aneuk saket lage nyan, menyoe hana tarante, jipoh teuh. Hana troh hate loen peuduk di lampoh likoet rumoh, tapi kiban tapeuget, menyoe loen peuduk di sampeng rumoh, eunteuk ierhoem ek bak rumoh, takot chit ierhom ek u ateuh ureung lewat (Sedih memang melihat anak sakit seperti itu, jika tidak dirantai, dipukul nanti. Tidak sampai hati saya tempatkan dia di kebun belakang rumah, tapi mau bagaimana lagi, jika saya tempatkan dia di samping rumah, nanti dilempar kotoran ke atas rumah, takut juga jika dilempar kotoran ke atas orang yang lewat),” ujar Ruhamah, saat ditemui portalsatu.com, Minggu, 7 Januari 2018.

Kata Ruhamah, tahun lalu Fauzi kabur dari RSJ. “Ka lhe geu dipeubat u romoh saket jiwa, yang sigeu diba u rumoh saket buket rata (RSUD Cut Mutia Lhokseumawe). Yoh awai loen jak tueng dari rumoh saket jiwa sabab ka puleh, tapi thoen baroesa jiplung jiwoe keudroe. Teukejet wate loen eu ka na dalam rumoh jilake peng keu bayeu RBT (Sudah tiga kali diobati ke RSJ, sekali dibawa ke RSUD Cut Mutia. Dulu pernah saya jemput dari RSJ karena sudah sembuh, tapi tahun lalu lari pulang sendiri. Terkejut saya waktu melihat dia ada di dalam rumah minta uang untuk bayar ongkos ojek),” tutur Ruhamah.

Dalam keseharian, Ruhamah menjadi tulang punggung keluarga karena suaminya, Jali Itam, tidak bekerja. “Ayah aneuk miet lage nyan siet, hana pah. Galak that meu’uroh khen keu gob bak taloe jalan, tapi hana geuseumupoh. Loen jak tupah blang gob, na peng si uroe meu lhee ploh ribe (ayah anak-anak seperti itu juga, tidak normal. Suka sekali memaki-maki orang di jalan, tapi tidak suka memukul. Saya bekerja sebagai buruh tani di sawah orang, dalam sehari kadang dapat uang Rp 30 ribu),” ungkap Ruhamah yang memiliki lima anak, tiga perempuan dan dua lelaki. Anak bungsunya masih duduk di bangku kelas III SMP.

Terkait rumahnya yang tidak layak huni, Ruhamah hanya pasrah, tidak tahu mau mengadu kepada siapa.

“Rumoh chit ka lage nyan, hana peng ngen tapeuget. Bobong tireh, binteh ka ruhung, dapue ka reubah. Loen magun ngen kaye, tapi nyoe tengeh ujeun, kaye bulut. Na peng loen peusapat bacut, ka loen bloe kompor gah, nyan pih gah meuhai (Rumah memang sudah seperti itu, tidak ada uang untuk membangun. Atap bocor, dinding sudah bolong, dapur sudah roboh. Saya masak dengan kayu bakar, tapi sekarang sedang hujan, kayu basah. Ada uang saya kumpul sedikit, sudah saya beli kompor gas, itu pun harga gas mahal),” kisah Ruhamah.

Hal lainnya dikatakan Rohana, 22 tahun, adik kandung Fauzi Murtala. “Abang hanya bersekolah hingga bangku kelas III SD, setelah itu menganggur. Setelah remaja, ia merantau ke Banda Aceh, kerja bangunan dan melaut juga. Belakangan melaut ke Idi, Aceh Timur, sebelum sakit,” terangnya.

Rohana tidak tahu persis penyebab abangnya sakit. Namun pasca sakit, Fauzi sering mengamuk dengan membakar dan menghancurkan barang-barang rumah.

“Abang sering ngamuk, pukul ibu dan anggota keluarga lain. Dumpue abeh di rumoh, meu sapue tan na le. Ureung laen hana dipoh, cuma keluarga, maka dirante Ilake rukok tiep uroe, menye hana tabie dilet teuh, tapi keu ineung galak chit (Semua habis di rumah, apapun tidak ada lagi. Orang lain tidak dipukul, cuma keluarga, maka dirantai. Setiap hari minta rokok, jika tidak dikasih dikejar, tapi perempuan suka juga),” kata Rohana.

Pasca kabur dari RSJ, petugas medis tidak pernah datang ke rumah, kecuali tadi siang (Minggu).

“Selama ini petugas medis tidak datang, karena memang setelah abang pulang dari RSJ tidak lapor. Obat selama ini ambil sendiri ke Puskesmas, kebetulan dekat cuma beberapa ratus meter dari rumah. Tadi ada datang polisi, ada petugas medis juga. Katanya besok akan dibawa, tapi tidak begitu jelas mau dibawa ke mana,” ujar Rohana.

Amatan portalsatu, di lokasi, Fauzi Murtala memiliki kulit putih bersih dengan alis tebal dan hidung mancung. Sepintas terlihat pakaian yang dikenakannya cukup bersih. Ia duduk di atas terpal dengan kaki kiri dirantai. Fauzi tidak banyak bicara, hanya menatap orang-orang yang datang melihatnya. Satu kata yang diucap Fauzi, “Na rukok? (Ada rokok?).”[] Sumber:Portalsatu.com

Mercinews.com memberikan akses informasi secara mudah, cepat, akurat, dan berkualitas kepada masyarakat luas.

[email protected]

[email protected]

Copyright © 2016-2018 Mercinews.com. All Rights Reserved.

Ke Atas