Opini

Special One untuk Partai Nasional Aceh (PNA)

Meuhabrak raya,” itulah komentar refleks saya saat teman Samsul B. Ibrahim memention saya tentang sosok calon kuat Partai Perjuangan Nasional Aceh, Nezar Patria.

Mengapa? Nezar Patria adalah sosok yang besar, kuat dan punya pengaruh besar untuk Aceh di level nasional, maupun level lokal.

Calon tunggal Wagub pasangan Irwandi Yusuf (saat ingin maju di jalur independent) ini, menurut catatan Kompas, memiliki latar belakang matang dalam dunia pers.

Pria kelahiran Siglie, Kabupaten Pidie, 5 Oktober 1970 ini merupakan salah satu aktivitis yang ikut diculik pada masa reformasi 1998.

Nezar yang merupakan lulusan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada pada 1997 ini juga aktif di beberapa organisasi kemahasiswaan, seperti Jemaah Shalahuddin UGM (1990-1991), Biro Pers Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM, Pijar (1992-1996), dan Sekretaris Umum Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) tahun 1996.

Karir Nezar di dunia pers dimulai saat bergabung dengan Majalah D&R (Detektif & Romantika) pada tahun 1999 hingga 2000. Setelah itu, Nezar bergabung dengan majalah Tempo hingga tahun 2008.

Di tahun 2007, Nezar meraih gelar Master of Science (MSc) dari London School of Economics (LSE), Universitas London, Inggris di bidang Politik dan Sejarah Internasional.

Nezar pun sempat menjabat sebagai ketua umum Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) pada 2008 – 2011. Saat ini, Nezar menjadi anggota Dewan Pers periode 2013 – 2016, periode 2016-2019, dan sempat menjadi kandidat Menteri Infokom Kabinet Kerja Presiden Jokowi. Kini ia berkarir sebagai Pemimpin Redaksi The jakarta Post online.

Jika kawan-kawan Jakarta mau “melepaskan” sahabat baik saya ini kembali ke Aceh, ini sebuah hadiah besar bagi Aceh terutama PNA. Saya yakin PNA akan jadi partai nomor 1 di Aceh ke depan, atau minimal akan masuk tiga besar.

Namun, jika Jakarta tidak rela Nezar pulang kampung, maka PNA harus mengejar sosok kuat lain baik di maupun di luar partai sendiri.

Jika internal ingin melongok ke dalam, menurut catatan saya, Nezar hanya mampu diimbangi oleh Irwandi Yusuf, pendiri partai yang saat ini Gubernur Aceh terpilih.

Jika PNA mau menjadi special one, harus mampu meyakinkan salah satnya untuk menjadi Pak Ketua di partai orange ini. Jika ini terjadi, kita akan lihat, pemilu legiatif 2019 akan lebih bergairah.[]

Aceh trend

Ke Atas