Opini

KONGRES PNA]: PNA dan PA, Kisah “Perang dan Cinta” yang Tak Padam

Politik adalah perang tanpa pertumpahan darah, sedangkan perang adalah politik dengan pertumpahan darah.”

Andai Mao Zedong masih ada, mungkin filsuf dan pendiri Republik Rakyat Tiongkok itu akan mencabut pernyataannya di atas. Soalnya, di Aceh politik masih akrab dengan darah, air mata, dan jiwa.

Menurut catatan Aceh Institute dan Forum LSM Aceh, hanya dalam dua pekan sudah terjadi 40 kasus kekerasan, 80 persen terjadi di bekas wilayah konflik, yaitu Kabupaten Pidie, Aceh Utara, Bireuen, Aceh Timur, Aceh Jaya, dan Kota Lhokseumawe.

Itulah catatan pemantau sipil pada Maret 2012. Saat itu berlangsung Pilkada yang menghadapkan Irwandi Yusuf – Muhyan Yunan dengan Zaini Abdullah – Muzakir Manaf di kompetisi memperebutkan posisi Gubernur Aceh. Komnas HAM mencatat, sampai April 2012 ada 12 orang meninggal dan 63 orang luka dan mengalami penganiayaan.

Salah satu peristiwa paling menyita perhatian adalah tewasnya Saiful alias Pon Cage yang juga mantan Panglima III Komite Peralihan Aceh (KPA) wilayah Batee Ilik, Jumat (22/7) sekitar pukul 23.00 WIB. Pon Cage tewas ditembak di depan warung kopi Gurkha milik korban yang terletak di jalan Medan-Banda Aceh Matangglumpangdua Bireuen.

Dalam drama air mata, darah, dan jiwa di Pilkada 2012 itulah Zikir menang dan akhirnya memimpin Aceh. Dan, dalam suasana batin itu juga pada akhirnya sahabat Irwandi Yusuf mendaftarkan partai lokal baru bernama Partai Nasional Aceh, disingkat PNA, Selasa (24/4/2012). PNA sendiri sudah diinisiasi sejak 4 Desember 2011.

Sejenak kita merenung, adakah Mao Zedong yang salah, atau kita di Aceh yang belum beranjak dari perang ke politik sesungguhnya?

Bisa jadi iya, soalnya dalam pantauan organisasi sipil di Aceh, pemilu 2014 juga dihiasi ragam potret kekerasan. Catatan mereka sejak April 2013 hingga 1 Maret 2014, sedikitnya sudah ada 38 kasus yang terjadi terkait dengan isu pemilu.

“Dari 38 kasus tersebut di bagi dua kategori, dengan jumlah kasus yang terjadi, di antaranya, 21 kasus kekerasan pemilu dan 17 kasus pelanggaran pidana pemilu,” kata koordinator masyarakat sipil Aceh, Mustiqal Syah Putra di Banda Aceh, Kamis (6/3/2014).

Hasilnya, meski PA masih menjadi pemenang dengan 29 kursi tapi menurun 4 kursi dilihat dari pemilu 2009. PNA, meski sebagai partai lokal baru, berhasil meraih 3 kursi di DPRA, salah seorangnya adalah istri Irwandi Yusuf, yang pada Pilkada 2017 menjadi “bintang” dalam kerja-kerja pendulungan suara, bagi usaha membuka jalan kembali Irwandi Yusuf memimpin Aceh.

Dan ternyata, Pilkada 2017 juga belum bebas dari kisah air mata, darah dan jiwa. Hasil kajian Perludem mengungkapkan Aceh merupakan daerah yang paling banyak diwarnai peristiwa kekerasan dalam proses pilkada serentak 2017, mencapai 26 kasus yaitu berupa kekerasan fisik, perusakan alat peraga, penembakan, dan pelemparan granat.

Kisah politik Aceh tentu tidak sepenuhnya kisah “perang”, ada juga kisah cinta. Salah satu kisah cinta yang terjadi jelang Pilkada 2017 adalah ajakan Irwandi Yusuf kepada Muzakir Manaf untuk berpasangan, maju bersama di Pilkada 2017.

Ajakan melalui media sosial yang dikemas dalam bahasa minta masukan itu diawali dengan seruan untuk melupakan peristiwa kekerasan yang terjadi di Pilkada 2012, dan jika pencalonan bersama terjadi dipercaya dapat kembali mebyongsong masa depan yang lebih baik.

Pertemuan dalam nuansa kisah cinta juga pernah berlangsung Januari 2015 dimana Irwandi – Mualem sempat bertukar cincin usai saling bertanya kondisi masing-masing. Pada Februari 2015 keduanya kembali bertemu di Hermes Hotel dalam kegiatan Atjeh Batee Festival, dan Mualem sempat menyebut Irwandi Yusuf sebagai salah seorang pemakai batu termahal di dunia, yaitu batu Safir.

Paska hari pemilihan, Februari 2017 Irwandi dan Mualem juga sempat bertemu disebuah rumah di Banda Aceh. Dalam pertemuan itu keduanya disebut saling menunjukkan dukungan untuk kemajuan Aceh. “Kita sudah sepakat bersatu lagi. Saya ingin seperti masa lalu, semuanya bersatu,” kata Irwandi Yusuf menjawab wartawan.

Mualem dengan jiwa besar mengatakan siap memberikan dukungan jika memang Irwandi Yusuf ditetapkan sebagai pemenang oleh KIP Aceh.

“Saya akan mendukung pemerintahan Irwandi, itu sudah pasti. Legislatif dan eksekutif harus kompak bersama. Hari ini kita berjumpa berbicara masa depan, menyamakan persepsi. Mari kita bersatu untuk bersama-sama membangun Aceh,” ujar Mualem saat itu.

Waktu bergerak seraya membawa kisah baru. Dalam pertemuan pisah sambut Pangdam IM di lapangan Jesdam, Rabu (20/4) malam, keduanya meski sempat bersalaman namun terlihat kaku. Irwandi yang mencoba memecah kebekuan dan mengajak untuk duduk disebelahnya tidak berhasil. Dan, dalam reposisi di DPRA, salah seorang yang terliat dalam pertemuan Irwandi – Mualem justru tidak lagi menjadi ketua fraksi. Adakah ini tanda, bahwa war and love story masih akan berlanjut di politik lokal Aceh?

Kita tunggu saja bagaimana PNA merumuskan dirinya dan menterjemahkan gerakan politiknya lewat Kongres I PNA, 1-2 Mei 2017 di Amel Convention Hall, Banda Aceh. []

Sumber:aceh trend

Ke Atas