Editorial

Asa Bang Man anggota KPA dari Simpang Ulim Untuk Pemimpin Aceh

PRIA paruh baya itu tersenyum dari kejauhan. Jalannya agak tertatih-tatih. Ia memakai baju olahraga.

Saat mendekat, wajahnya terlihat semakin sumbrigah. Sekilas, ia seperti pria normal pada biasanya. Badannya tegap serta raut wajahnya cerah dan bersih. Hanya saat berjabat tangan, baru diketahui kalau ia tidak lagi memiliki jari tangan.

“Ka trok u Penjara (Kahju-red) sare. Payah balek lom,” ujarnya sambil menyalami satu persatu kenalan di depannya.

Di sana, ada sejumlah rekannya sesama anggota Komite Peralihan Aceh (KPA). Salah seorang di antaranya adalah Budi Pang Sumatera, mantan kombatan GAM dari Langkat. Atas ajakan pria berbadan kekar itulah, sosok ini bertandang ke warung kopi Batee 8, Kahju, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar, Jumat malam, akhir pekan lalu.

“Peuna rencana neukoh kaki siblah teuk?” ujarnya bercanda kepada Budi Pang Sumatera. Sementara beberapa anggota KPA lainnya tersenyum.

Ya, konflik panjang telah membuat pria ini kehilangan seluruh jari tangan dan kaki kanan-nya terpaksa diampuntasi serta harus memakai kaki palsu. Beberapa tulang tangan juga patah karena siksaan semasa konflik.

Pria paruh baya ini bernama Usman Afan. Namun di kalangan mantan kombatan GAM, ia akrab disapa dengan sebutan Bang Man Putong. Bang Man merupakan anggota KPA dari Simpang Ulim, Kabupaten Aceh Timur. Saat bertandang ke Banda Aceh, ia sering menginap di Mess Wali Nanggroe, Jalan Pemancar, Setui, Kota Banda Aceh. Dari sanalah, ia berangkat malam itu, menuju Cafe Batee 8 di kawasan Kahju, Aceh Besar.

“Dengoe pue neujak keunoe?” tanya salah seorang anggota KPA Langkat.

Mendengar hal ini, Bang Man tersenyum. Ia menghisap rokok Panamas miliknya dalam-dalam.

“Dengoe honda-lah. Honda meu igoe. Lon pasang karet bak stang honda, kemudian lon ikat bak jaroe,” ujar Bang Man.

“Meunyoe honda matik, hanjeut lon ba. Sebab rem bak jaroe. Hanjeut taba karena aneuk jaroe hana lee. Meunyoe honda meuigoe, rem bak gaki,” ujarnya kembali dengan enteng. Mendengar hal ini, sejumlah yang hadir di sana tertawa.

Karena kondisinya kini, Bang Man mengaku sering mendapat sorotan negatif dari setiap orang yang ditemuinya. Namun hal ini bukan lagi masalah bagi dirinya. Ia menerima takdirnya itu dengan hati yang lapang.

“Dipike lon ureung jak mita sedekah. Sisi positif jih, meunyoe na sweeping, lon sering lolos. Karena polisi kasihan keu lon. Aneuk jaroe tan, kaki putong,” ujarnya lagi.

Karena kondisinya kini, hidup Bang Man masih jauh dari kata mampu. Ia tidak bisa lagi bekerja seperti pria normal biasanya. Di sisi lain, ia juga tak suka meminta minta.

“Meunyoe jameun (saat konflik dan berstatus tentara nanggroe-red) na peng operasi. Tapi meunyoe jinoe….,” ujar Bang Man terputus. Ia kemudian tertawa lepas. Seolah menertawakan nasibnya kini yang tak ada kejelasan. Matanya menerawang ke atap warung.

“Makajih ta berharap peu yang pernah ta perjuangan nyoe, bek sia-sia,” katanya kemudian.

Bang Man berharap mantan tentara GAM yang kini memiliki posisi penting di Aceh tak melupakan orang-orang seperti dirinya.

“Juga alasan pakon geutanyoe meuprang jameun. Nyan bek tuho. Keu keluarga ureung yang ka meninggal,” katanya.

Pukul 02.00 dini hari, Bang Man minta izin pamit. “Lon rindu that lon kalon, mandum mantan GAM akur,” ujarnya sambil berlalu.[] mediaaceh.co

 

Ke Atas