Ekonomi

Haji Uma Tinjau Lokasi Pilot Project Garam Geomembran di Aceh Utara

Mercinews.com, Aceh Utara – Anggota DPD-RI asal Aceh H. Sudirman atau yang akrab disapa Haji Uma meninjau lokasi pilot project rencana pembangunan pabrik garam dengan sistem teknologi geomembran di Gampong Matang Tunong, Kecamatan Lapang, Aceh Utara, Kamis (28/12/2017). Dalam kesempatan yang sama, staf Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI juga memvalidasi luas lahan yang mencapai 17 hektar area (Ha).

“Berawal dari kita ingin menegakkan UU no 7 tahun 2016 tentang perlindungan petani tambak garam, ditambah lagi dengan kondisi garam kita saat ini. Di sini, kita selalu mengontrol dan memberikan tekanan atau imbauan kepada pemerintah atas arus masuknya garam mencapai 75.000 ton. Itu betul-betul kita keteteran saat ini,” ujar H. Sudirman alias Haji Uma kepada mediaaceh,di lokasi.

Sebagai wakil rakyat di Senayan, Haji Uma melihat ada hal yang harus diperbaiki dan dibenahi. Selama ini Aceh dikenal dari dulu sudah memproduksi garam secara turun-temurun, tapi mengapa kini kian menyusut dan kemudian tidak ada regenerasi.

“Rupanya ada hal yang mengganggu, masyarakat mempunyai satu paradigma garam tidak bisa menjanjikan kesejahteraan. Ini kita mengupayakan, bagaimana negara-negara lain bisa menggantungkan kesejahteraan di garam, sedangkan di Aceh mengapa tidak bisa. Selama ini masyarakat secara otodidak mengolah garam dengan kayu seadanya. Produksi garam berjalan hampir setiap hari, namun gubuk saja tidak sanggup diperbaiki,” ucap Haji Uma.

Melihat kondisi ini, Haji Uma mengusulkan ke KPP RI untuk memberikan kesempatan bagi Aceh menjadi pemasok garam. Untuk itu, Haji Uma diminta mendata tiga lokasi di Aceh. Namun ternyata yang layak sejauh ini hanya dua, Pidie Jaya yang kini mencapai 40 Ha dari sebelumnya 36 Ha dan Aceh Utara saat ini tercatat 17 Ha.

“Inilah semangat kita telah mendapatkan sinyal dari Dirjen KKP, bahwa kita merupakan lumbung garam Nasional yang menjadi pilot project garam terbesar di Sumatera Utara. Dari 21 project garam, termasuk dua di Aceh yang mendapat dominasi garam terbesar di Sumatera. Mudah-mudahan kita bukan hanya bermain di skala daerah, tapi bisa bermain di skala Internasional. Hari ini Australia mengimpor garam ke kita , tidak ada salahnya jika nanti menjadi sebaliknya,” ungkapnya.

Untuk mencapai itu, kata Haji Uma, masyarakat khususnya petani tambak garam harus memiliki keinginan besar, bahwa garam bisa diimpor ke luar negeri, bukan hanya garam yang dimakan sehari-hari. Banyak garam yang bisa dipakai untuk produksi pabrik dan lainnya.

“Kita harus samakan mindset bahwa kita selangkah dan sejalan. Kita harus yakin garam geomembran ini memberi harapan baru. Sudahlah dengan masa lalu terkait garam kita rebus paling bagus. Sudahlah, berhenti di sana. Mari kita buka wahana baru, garam geomembran sistem jemur ini dengan produksi 100 kali lipat lebih menguntungkan,” pungkas Haji Uma.

Sementara itu, Staf Direktur Bidang Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Irwan Sulistiawan menyebutkan, dirinya bertugas memvalidasi dan memverifikasi lahan yang diajukan 17 Ha tersebut. 

“Kita di sini ada mengintegrasikan lahan untuk dikelola sama-sama. Jadi definisinya, beberapa lahan dikelola satu manajemen koperasi. Tugas koperasi, mengelola lahan garam di sini dan anggota koperasinya para petambak di sini,” ujar Irwan.[] mediaaceh.co

Ke Atas