Editorial

Saat GAM Berharap Keluar dari Siklus Adu Domba       

WARUNG kopi Rawa Sakti tampak sepi usai magrib tadi. Hanya beberapa meja yang terisi. Para pengunjung terlihat sibuk dengan laptopnya masing-masing. Memanfaatkan wifi gratis untuk berselancar di dunia maya.

Seorang pria bertubuh kekar terlihat melambai dari bagian atas. Ia memakai baju kaus merah. Pria ini bernama Budi Satria. Ia merupakan mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) wilayah Langkat. Saat konflik ia dipanggil dengan sapaan Wapang.

“Banleuh sembahyang. Dari Sigli, takziah bak rumoh ureung meninggal, langsong keunoe,” ujar pria yang juga disapa Budi Pang Sumatera ini.

“Lam perjalanan ditelepon lee Fahmi sabe. Dipeumerumpok dengoe ureung nyoe,” kata Wapang lagi.

Sosok Fahmi yang dimaksud adalah Khairul Fahmi, anggota polisi Polresta Banda Aceh. Fahmi aktif di media sosial serta memiliki pergaulan dengan berbagai kalangan, termasuk para mantan kombatan.

Fahmi saat itu masih berpakaian polisi. Ia tersenyum saat namanya disebut. “Gohlom woe u rumoh. Usai dinas keunoe laju,” katanya singkat sambil tertawa.

“Fahmi keneuk peumerumpok lon dengan Pang Alue Ie Mirah, Pang Rahed dan Hermansyah. Kebetulan ureung nyoe na di Banda, dan Hermansyah merupakan teman dari Fahmi,” kata Wapang lagi.

Sosok yang disebut Pang Rahed kemudian bangkit dari tempat duduk serta menyalami saya. Pria ini memiliki nama asli Abdul Hamid N. Ia adalah Panglima Sagoe Alue Ie Mirah, Aceh Timur. Hermansyah menyusul belakangan. Kedua sosok ini merupakan anggota DPRK Aceh Timur.

Hermansyah dari Peunaron dan Pang Rahed dari Alue Ie Mirah.

Wapang Langkat dan Pang Rahed ternyata merupakan alumnus Jim-jim, tahun 1999. Keduanya mengaku tak saling kenal saat itu. Maklum, pelatihan GAM di Jim-jim pada 1999 diikuti oleh ribuan GAM dari berbagai daerah. Pelatihan ini dipimpin langsung oleh Mualem Muzakir Manaf.

Kembali ke Cafe Rawa Sakti, di sana juga ada anggota KPA dari wilayah Langkat lainnya. Suasana terlihat penuh keakraban. Pang Rahed kemudian mulai bercerita soal banyak hal. Mulai konflik pilkada, ketegangan Aceh dan Pusat, pemberdayaan mantan kombatan dan masyarakat, hingga cerita adu domba sesama mantan kombatan yang sedang berlangsung di Aceh saat ini. Memasuki cerita ini, Pang Rahed sempat terdiam. Ia menarik nafas panjang.

“Prilaku nyoe yang sebetul jih lon sesalkan. GAM diadu dengan sesama serta masyarakat,” ujarnya kemudian.

“Lon sepakat dengan Wapang. Mantan kombatan GAM harus kembali ke dasar. Mantan GAM harus keluar dari siklus adu domba nyoe,” kata Pang Rahed lagi.

Wapang Langkat mengangguk. Ia tersenyum. Mungkin karena pemikirannya sejalan dengan Pang Rahed.

“Ureung GAM memang harus kembali meusaboh. Meunyoe han, peu yang ta pejuang awai, sia-sia,” ujar Wapang kemudian. Perkataan ini kembali diamini oleh Pang Rahed.

“Ya, ureung GAM yang jinoe na di mandum partai politik, harus kembali meusaboh. Kon harus saboh partai politik, tapi meusaboh sebagai GAM. Kembali ke dasar awai. Di bawah komando awai. Karena ureung GAM yang rame jinoe di bawah Mualem, ya harus kembali keunan,” ujar Pang Rahed.

“PDA, SIRA, dan mandum Parlok, silahkan rekrut kader terbaik demi Aceh yang leubeh get ukeu. Bek lee na konflik mantan GAM karena partai politik,” katanya lagi.

Pang Rahed berharap keinginannya ini bisa didukung oleh seluruh pimpinan wilayah di Aceh.

“Sehingga penyatuan mantan GAM nyoe lagee awai bisa berjalan. Meunyoe han, peu yang tanyoe cita-citakan han akan berhasil. Pusat ciet galak geutanyoe mupakee,” kata Wapang Langkat.

Beberapa yang hadir di sana terlihat tersenyum.

“Mudah-mudahan Aceh ukeu leubeh jroh,” kata Pang Rahed.

Pukul 20.30 WIB, Hermansyah minta izin pamit. Demikian juga dengan Pang Rahed. Seluruh yang hadir juga minta izin untuk menutup pertemuan tersebut serta berjanji agar tetap berkomunikasi.

“Nyoe payah sering ta diskusi lom ukeu. Lagee harapan geutanyoe mandum,” kata Wapang sebelum bubar.[] Sumber mediaaceh.co

 

Ke Atas