Peristiwa

Peziarah Kuburan Massal Tsunami di Ulee Lheu tidak Mampu Membendung Air Mata

Mercinews.com, Banda Aceh- Suasana hening pecah saat isak tangis peziarah mewarnai peringatan 13 tahun tsunami di kuburan massal Ulee Lheu, Banda Aceh. Kuburan tempat bersemayamnya14.264 korban tsunami itu setiap kali peringatan tsunami tidak pernah sepi penziarah.

Pagi ini, ratusan warga yang datang dari berbagai sudut di Kota Banda Aceh dan Aceh Besar memadati kuburan yang tidak bernisan itu.

Berada di kuburan yang luasnya dua kali lapangan bola kaki itu, mengingatkan betapa dahsyatnya gempa bumi dan tsunami yang melanda Aceh pada 2004 silam. 

Menabur bunga di atas kuburan yang terhampar dan tidak bernisan akan menjadi pemandangan yang sedikit berbeda. Pasalnya, tidak cukup sekali tabur di makam itu, para penziarah harus mengambil bunga yang baru. 

Begitulah suasana yang terlihat di kuburan massal korban tsunami di Aceh.

Salah seorang penziarah Asal Punge Blang Oi, Rohani mengatakan, hanya keyakinan yang mengarahkannya untuk datang ke kuburan massal itu untuk memanjatkan doa kepada keluarganya yang turut menjadi korban tsunami. 

“Saya yakin di sini disemayamkan orang tua dan adik saya. Memang terasa seperti ada kontak batin,” kata Rohani.

Rohani tidak mampu membendung air mata saat mengenang kedua orang adik, kakak serta sanak keluarganya yang menjadi korban tsunami. Saat 26 Desember 2004 silam orang tua, adik beserta kakaknya berada di rumah mereka di Punge Blang Oi yang hanya berjarak 4-5 kilometer dari bibir pantai Ulee Lheu.

“Sampai hari ini saya masih teringat, saat kejadian itu terjadi oang tua saat itu berada di Punge Blang Oi, saya tinggal bersama suami di asrama PHB Lampriet,” ujarnya.

Peziarah lainnya, Nasrul, warga Saree, Aceh Besar juga menyatakan kesedihannya. Ingatan akan ganasnya gelombang tsunami masih terngiang di pikirannya.Dua putranya ikut menjadi korban keganasan tsunami. Saat kejadian itu, tiga dari empat anaknya tinggal di Lampulo, Banda Aceh untuk mengeyam pendidikan di Banda Aceh. Ketiga anaknya bersekolah di SMA, SMP dan MI.  Yang selamat dari tsunami adalah anak sulungnya yang sekolah di SMA.

“Saya tinggal di Saree dan saat kejadian itu saya sedang berada di Berastagi untuk membawa murid-murid praktek di sana,” ujar Nasrul yang berprofesi sebagai seorang guru di SMK Pembangunan Pertanian Saree.

Dia menambahkan, setiap kali peringatan tsunami, dirinya rutin berziarah ke kuburan massal. Tidak hanya di Ulee Lheu, namun dia juga sering berziarah ke kuburan massal Siron di Lambaro, Aceh Besar.

“Kita selaku orang yang beragama, berziarah kemana saja bisa meskipun kita tidak tahu keberadaan jasadnya yang terpenting adalah kita memanjatkan doa,” ujarnya.[]

Ke Atas