Berita

Debu Batubara PT Mita Juga Masuk Pemukiman Warga Nagan Raya

Mercinews.com, Nagan Raya – Dampak paparan debu batubara milik PT Mifa Bersaudara bukan hanya dialami masyarakat Dusun Pertanian, Desa Peunaga Cut Ujong, Kabupaten Aceh Barat. Namun juga dialami warga Kabupaten Nagan Raya, tepatnya warga Dusun Gelanggang Meurak, Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir yang pemukiman mereka juga hanya berjarak beberapa ratus meter dari stockpile batubara milik perusahaan itu.

Seperti yang dikeluhkan oleh Samsul Bahri, (55). Sudah tiga tahun ini debu batubara masuk ke rumahnya, namun ia hanya pasrah dan tidak bisa berbuat apa-apa meski sebenarnya dampak dari debu tersebut sangat beresiko terhadap kesehatannya.

Mirisnya lagi, Samsul yang sebelumnya berjualan nasi terpaksa ‘gulung tikar’ karena pelanggan maupun pelintas jalan Meulaboh-Medan sudah enggan singgah ke warungnya karena makanan yang ia sajikan kerab masuk debu batubara.

“Padahal pendapatan saat jualan nasi bisa dikatakan lumayan. Per hari bisa mencapai Rp 400 hingga Rp 800 ribu, Tapi sekarang tidak bisa jualan lagi karena setiap hari saya merugi karena tidak lagi ada pengunjung,” kata Samsul kepada wartawan, Senin (21/8).

Ia mengaku usaha warung nasinya tutup sejak dua tahun terakhir, lantaran sering mendapat komplain dari pengunjung karena makanan yang disajikan selalu berdebu.

Samsul mengaku, dirinya sempat jualan nasi selama empat tahun, dan ditahun kelima berhenti akibat debu batubara, dan akhirnya beralih menjadi pedagang kayu bakar dengan penghasilan tidak menentu, hanya 40 ribu rupiah perhari.

“Selama jual kayu bakar saya hanya medapat penghasilan Rp 40 ribu, itu sudah paling banyak kadang-kadang hanya Rp 10 ribu. Saat ini untuk tambahan saya bekerja di kebun sawit milik orang lain, membantu bersihkan dan menjaga kebun,” ujarnya.

Selain pendapatan ekonominya yang sudah tidak lagi seberuntung dulu, kata dia, kini kesehatannya juga mulai terganggu dan sering mengalami batuk-batuk seperti perih pada kerongkongan dan sesekali sesak pada dada.

Yang paling parah terganggu kesehatan dalam keluarganya adalah istri, anak dan cucunya yang setiap hari sesak nafas dan sakit dibagian dada.

Sayangnya apa yang dialami keluarganya saat ini tidak pernah mendapat perhatian dari pihak perusahaan seperti memeriksa kesehatan mereka secara menyeluruh.

“Kalau saya mungkin batu-batuk dan dada terasa sesak bisa jadi karena kerja keras dan jarang di rumah bisa dikatakan tidak begitu parah. Tapi istri saya yang memang tidak kerja apa-apa dan di rumah selalu, sampai saat ini dadanya sesak, cucu dan anak saya juga mengalami hal yang sama,” ungkapnya.

Apa yang ia alaminya juga dialami puluhan rumah di sekitar dusun itu namun mereka tidak pernah mendapat perhatian apapun dari pihak perusahaan tersebut.

Samsul kini mulai menyerah dan sudah tidak lagi sanggup tinggal di daerah dekat stockpile batubara milik PT Mifa tersebut yang hanya berjarak sekitar 250 meter.

Dirinya berharap pihak perusahaan melakukan ganti rugi tanah dan bangunan mereka serta direlokasi dari tempat yang jauh dari lokasi stockpile batubara tersebut, serta memeriksa kesehatan dan memberikan kompensasi atas apa yang mereka alami selama ini,[] ajnn.net

 

Ke Atas