Opini

Abi Muda Simpang Matang: Pentingnya Pendidikan Berkarakter

Tgk. Nainunis atau Abi Muda Simpang Matang Samalanga,

Samalanga -Dunia tarbiyah saat ini terutama lembaga pendidikan diharapkan mampu mendidik para generasi penerus dalam bingkai pendidikan berbasis karakter.

“Dalam dunia pendidikan dikenal beberapa kajian.  Di antaranya, pendidikan keterampilan, pendidikan intelek, pendidikan karakter, dan pendidikan sikap,” ujar Teungku Nainunis, M.A., akrab disapa Abi Muda Simpang Matang, tokoh pendidikan dan agama asal Samalanga, Bireuen, Kamis, 13 April 2017.

Abi Muda menjelaskan, pendidikan karakter itu merupakan pemberian tentang suatu pandangan mengenai berbagai jenis nilai hidup. Di antaranya, kejujuran, kepedulian, kecerdasan, tanggung jawab, keindahan, kebenaran, keimanan dan kebaikan. “Pendidikan karakter lebih berkaitan dengan psikis seseorang, antara lain dari segi motif, dorongan berbuat, dan nafsu atau keinginan,” katanya.

Ia mengatakan, dalam pendidikan berbasis karakter, informasi yang diperoleh selama dalam pendidikan diharapkan dapat diintegrasikan sebagai pandangan hidup bermanfaat sebagai upaya penanggulangan persoalan hidup. “Dengan adanya pendidikan berbasis karakter menjadikan manusia lebih sadar diri sebagai warga negara, manusia, makhluk, pria atau wanita,” ujar Abi Muda.

“Kesadaran itu dijadikan tolak ukur martabat dirinya supaya dapat berpikir kritis, terbuka, obyektif dan mempunyai harga diri yang tidak mudah untuk diperjualbelikan. Menjadikan individu memiliki sikap kejujuran, kejujuran, integritas, dan produktivitas,” papar akademisi senior IAI Al-Aziziyah Samalanga itu.

Dalam pandangan Abi Muda, seorang pendidik itu juga lebih menyadari apa tugasnya, dan cara mengambil sikap dalam menghadapi berbagai situasi permasalahan. Kehidupannya juga berjalan dengan penu kesadaran, peka dengan lingkungan sosial dan sanggup bertanggung jawab atas apa yang dilakukan.

“Dalam perspektif salah seorang ilmuwan Barat bernama Foerster ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter. Pertama, keteraturan interior dimana setiap tindakan diukur berdasarkan hirarki nila-nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan. Kedua, koherensi yang memberikan keberanian, membuat seseorang teguh pada prinsip, tidak mudah terombang ambing pada situasi baru atau takut risiko,” ujar Abi Muda.

Abi Muda melanjutkan, koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain. Tidak adanya koherensi meruntuhkan kredibilitas seseorang. Ketiga, otonomi, disitu seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. “Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan serta tekanan dari pihak lain,” katanya.

Keempat, keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan, kata Abi Muda, merupakan daya tahan seseorang guna menginginkan apa yang dipandang baik. “Dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih,” ujar guru senior Dayah MUDI Masjid Raya Samalanga itu.

Harapan Abi Muda setidaknya dengan adanya pendidikan berbasis karakter akan mampu memberi angin positif dalam melahirkan generasi yang mampu berakhlakul karimah dan berintelektual tinggi menuju kebaikan dan perbaikan ke arah lebih baik.[]

Sumber:portalsatu.com

Ke Atas