Daerah

Situs Bersejarah di Gampong Pande Tak Terurus

Mercinews.com, Banda Aceh – Di Gampong Pande ada tiga situs bersejarah yang dikelola oleh BPCB Aceh, yaitu Makam Tuan Dikandang, Makam Raja-raja Gampong Pande dan Makam Putro Ijo. Ketiga situs tersebut secara rutin diperhatikan oleh BPCB Aceh setelah direhab oleh Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh pasca porak-poranda akibat tsunami.

Pada situs bersejarah tersebut ditempatkan juru kunci, yang bertugas merawat dan menjaga serta menerima pengunjung. Kompleks Makam Tuan Dikandang Gampong Pande dan Makam Raja-raja Gampong Pande dijaga Zulkarnaini, Kompleks Makam Putro Ijo dijaga Zaini dan Subki. Ketiga orang itulah yang bertugas merawat situs-situs tersebut.

Selain tiga situs bersejarah tersebut, ternyata di Gampong Pande juga terdapat situs-situs bersejarah lainnya yang berupa kompleks pemakaman yang keadaannya memprihatinkan dan tidak mendapat perhatian pemerintah.

Situs bersejarah tersebut berada di tengah semak belukar yang ditumbuhi bakau dan nipah. Makam-makam tua itu juga terletak di  atas tanah berlumpur. Beberapa makam sudah terendam dalam tambak ikan warga dan juga ada batu nisan yang sudah patah dan tercabut dari posisi awalnya.

Sebaran makam yang tidak terperhatikan itu sangat luas mencapai puluhan hektar, mulai dari kawasan pemukiman penduduk hingga ke tepi laut Selat Malaka. Jumlah nisan di kawasan tersebut mencapai ribuan, Sehingga Arkeolog Aceh Husaini Ibrahim dalam buku (Awal Masuknya Islam ke Aceh Anilisis Arkeologi dan Sumbangannya pada Nusantara) meyakini kawasan Gampong Pande sebagai tempat awal berkembang Islam di Aceh dan Nusantara.

Keuchik Gampong Pande, Amiruddin, mengatakan pelestarian yang dilakukan pemerintah terhadap situs-situs bersejarah di Gampong Pande hanya pada situs yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya yakni Makam Tuan Dikandang, Makam Raja-raja Gampong Pande dan Makam Putro Ijo. Sementara masih banyak situs-situs lainnya yang tidak terurus, beruntung beberapa diantaranya ada dilakukan penyelematan oleh beberapa LSM dan para mashasiswa yang melakukan kuliah lapangan ditempat tersebut.

“Masih banyak situs-situs yang ada di Gampong Pande yang kurang diperhatikan dan tidak terdata sebagai cagar budaya. Sebagian ada diselamatkan oleh lembaga dan juga mahasiswa,” katanya.[] mediaaceh.co

Mercinews.com memberikan akses informasi secara mudah, cepat, akurat, dan berkualitas kepada masyarakat luas.

[email protected]

[email protected]

Copyright © 2016-2018 Mercinews.com. All Rights Reserved.

Ke Atas