Editorial

Kausar dan Kisah Adôk Paya

Murthala*

Endatu (indatu) kita orang Aceh mewanti-wanti agar berbicara sesuai kadar, tak lebih dan tak kurang. Banyak hadih maja soal itu. Di antaranya, nariet sikrak sikatoë, dua lhèe krat jeut blöe nanggroë. Bicara sedikit tapi penuh makna, tamsilannya, dengan ucapan yang baik pun kita bisa membeli sebuah negara.

Akan tetapi sebaliknya, bicara lepas tanpa kontrol, apalagi melewati batas kewenangan yang ada pada seseorang, maka nariet yang meukatoë ini sangat tidak baik, narièt yang ka keuluwa tapeuguda han meutumèe lè. Suara yang sudah keluar dari mulut, dikejar pakai kuda pun untuk ditarik kembali ke mulut, tak akan pernah bisa lagi.

Inilah yang menimpa Ketua Fraksi Partai Aceh, Kausar Muhammad Yus di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA). Karena “kegatalan mulut” sehingga berbicara apa yang belum sampai pada kewenangannya untuk membicarakan itu, ia harus lengser dari jabatannya, dan diganti kawan separtainya Iskandar Usman Al Farlaky.

Keduanya merupakan anak muda yang baik, sama-sama cerdas. Cuma Farlaky yang sebelumnya Ketua Badan Legislasi (Banleg) DPRA tampaknya lebih bisa menahan diri dalam mengeluarkan pernyataan di media massa.

Penggantian Ketua Fraksi PA dari Kausar ke Farlaky itu terasa biasa saja bagi mereka yang tidak mengikuti dinamika selama ini di partai pemenang pemilu legislatif ini. Penggantian ini sebenarnya hanya bagian kecil dari pergolakan dalam partai ekskombatan ini.

Saya ingin memutar sedikit ke belakang dimulai selesai Pileg 2014. Sebelum pelantikan DPRA muncul pihak yang mengaku BPPA (Banda Penyelamat Partai Aceh). Salah seorang penggerak kegiatan ini terkait keluarga dengan Kausar. Dan diduga Kausar punya peran. Mereka mewacanakan musyawarah luar biasa Partai Aceh. Mereka juga menuntut pertanggungjawaban Mualem terkait bantuan Prabowo yang kabarnya mencapai puluhan miliar.

Tidak lama setelah itu muncul juga organisasi dengan singkatan yang sama, tapi kepanjangannya berbeda. BPPA (Badan Penyelamat Pemerintah Aceh). Organisasi ini kemudian menggelar berbagai demo meminta Gubernur Aceh Zaini Abdullah mundur. Mereka juga mendesak DPRA menurunkan Doto Zaini. Di sini peran Kausar diduga sangat kentara.

Orang-orang menceritakan dengan gamblang soal peran Kausar. Kasus ini menjadi awal perpecahan terbuka Doto dan Mualem. Doto langsung menuding Mualem di balik demo-demo terhadap dirinya. Beliau amat gusar pada Kausar dan kelompoknya. Dari sinilah mulai beredar tentang peran Kausar dalam proyek pemberdayaan eks-GAM di APBA 2013.

Di khalayak beredar berbagai isu Kausar “decisions maker” dalam proyek ini. Terutama proyek boat nelayan dan peternakan ayam. Semua peran ini menjelaskan bahwa Kausar politisi yang mahir dan pandai memanfaatkan situasi. Tujuan mendapat perhatian Mualem dan menekan kelompok Doto. Tak penting gara-gara itu hubungan Doto dan Mualem kemudian berada di titik nadir. Saat itu kelompok itu berhasil melakukan “divide et impera” antara keduanya. Kelompok itu berhasil menguasai keduanya.

Semua rentetan di atas ibarat kata orang tua kita dulu, “sipat tak dua pat lhut”. Lebih tegasnyanya lagi disebut sebagai “bubèe dua jab, seurekab dua muka, keunoë jipeutoë, keudèh jipeurap, man dua pat jitarèk laba”.

Menjelang pelantikan anggota DPRA, saya mendengar isu bahwa Kausar berambisi menjadi Ketua DPRA, minimal menjadi Ketua Fraksi PA. Dan itu benar terjadi. Untuk itu beberapa anggota dewan PA yang berpotensi berpengaruh “dibuang”, seperti Ermiadi, Nurzahri dan Tgk. Harun. Setelah berkuasa dan menjadi orang dekatpimpinan partai, Kausar benar-benar tak terkendali.

Masih ingat utak-atik APBA 2015? Saat itu dengan alasan ditolak Mendagri lebih kurang Rp150 miliar APBA langsung diutak-atik tanpa melibatkan Badan Anggaran (Banggar) Dewan. Anggaran ini menjadi bancakan. Kabar yang beredar, Kausar terlibat sangat kentara.

Hanya beberapa orang yang kabarnya terlibat mengalihkan anggaran ini. Sebagian besar dialokasikan ke Kabupaten Bireuen. Kasus ini menimbulkan kemarahan anggota DPRA lain. Bukan hanya dari PA, tapi juga dari partai lain. Sejumlah besar yang dialihkan ini adalah aspirasi dewan. Awalnya, Mualem juga marah dan meminta DPRA menolak. Bahkan, Ketua DPRA sempat menerbitkan surat penolakan.

Namun, belakangan menjelang keberangkatan Mualem ke Amerika. Kelompok ini berhasil melobi Mualem. Tiba-tiba saja Mualem “pasang badan” dan meminta PA diam. Janji pada perubahan anggaran akan kembali diakomodir aspirasi yang menguap itu. Dalam kasus ini, Kausar kembali menunjukkan superioritasnya.

Maka Kausar pun “meutamah leupah dah”. Dalam penentuan calon Pilkada di tingkat kabupaten, kabar yang beredar Kausar menjadi penentu terutama untuk tiga kabupaten. Yaitu Abdya dengan calon Erwanto. Semua juga tahu bagaimana kedekatan keduanya. Begitu juga di Bireuen yang merupakan daerah pemilihan Kausar.

Penempatan Juanda Jamal di Aceh Besar juga diisukan atas lobi Kausar. Masalahnya di tiga daerah itu PA kalah telak. Namun, bukan Kausar namanya bila tidak percaya diri. Beberapa hari pasca-Pilkada Kausar menginisiasi pertemuan Mualem dengan Irwandi di sebuah rumah orang dekatnya. Padahal, di daerah belum pleno hasil Pilkada. Ini kemudian dianggap demoralisasi oleh kader PA di lapangan. Begitu juga timses Irwandi.

Pertemuan dengan hidangan penuh di meja itu menyakitkan mereka yang belum tidur menjaga kotak suara. Walaupun penuh hujatan, Kausar tak peduli. Besoknya dia melanjutkan “lobi lincah u groh” bersama Mualem dan Erwanto di sebuah tempat di Aceh Besar. Banyak yang menduga lobi ini bagian strategi Kausar kembali dapat tempat dalam pemerintah baru. Kausar ingin memeran diri sebagai pahlawan bagi Mualem dan Irwandi. Apalagi “bisik-bisik” posisinya yang goyah setelah kekalahan PA di Pilkada.

Belakangan muncul pernyataan Kausar tentang kesiapan Fraksi PA bekerja sama dengan Irwandi. Sepertinya ini puncak “leupah dah”. Belakangan, ia mengatakan itu hanya pernyataan pribadi. Aneh bukan, ketua fraksi bisa bicara pribadi tapi bicara koalisi. Dalam politik mana ada koalisi tanpa konsensi. Kesannya Kausar ingin curistart agar kembali menjadi “decisions maker”. Sayangnya, para kader sudah terlalu gerah. Dan Kausar “ka leupah dah”, sehingga “ro minyuek”. Kali ini, Kausar kena batunya.

Perlakuannya ke sejumlah kader lama menjadi “karma” bagi dirinya. Dia “dibuang” seperti dia “membuang” kawannya sefraksi dulunya. Ulah Kausar selama memimpin fraksi benar-benar menghancurkan kredibilitas PA. Lihatlah bagaimana Pemerintah Aceh memimpin “bak raja” tapi DPRA seperti “singa di sangkar”. Yang ada hanya “seu eum ek manok”.

Semua persoalan pengawasan tidak berjalan baik. Budgeting dewan terkesan masuk “jebakan aspirasi”, mereka sibuk menjaga aspirasi. Banyak hasil temuan Pansus hilang tak berujung. Dan akhirnya selaku fraksi mayoritas, PA menjadi “bulan-bulanan”. Fraksi ini sepanjang dua tahun belakang “lagee manok mate ma”.

Dari dalam, Kausar digembosi, tapi di luar Kausar superior. Akankah Kausar berhenti? Ke depan saya yakin Kausar akan mendapat momentum baru untuk terus bermain dan mengambil manfaatnya.

Kausar bukan “ureung sheut paya”, tapi “ureung adôk paya”. Dia akan membuat payau keruh agar ikannya mabuk. Dan dia akan mengutipi ikan-ikan mabuk yang muncul ke permukaan. Kemudian akan “meninggalkan payau yang kacau balau”. Sebagai aktivis kiri pola ini bukan hal sulit baginya. Wallahu’alam.[]

*Penulis lepas
Portalsatu.com

Ke Atas